Jumat, 03 Juni 2011

Resensi Buku

Identitas buku:
Judul                           : 100 Permainan Tradisional Indonesia
                                      (Untuk Kreatifitas, Ketangkasan, dan Keakraban)

Pengarang                   : A. Husna M.
Penerbit                       : ANDI
Tahun Terbitan            : 2009
Tebal Buku                  : 218 halaman
Diresensi oleh             : rikamumtaz
            Masih ingatkah dengan permainan gobak sodor, bebentengan, panjat pinang, atau ular-ularan? Balon kempit atau enggrang? Saat ini permainan tradisional seperti itu sudah jarang ditemui atau dimainkan. Walau sebenarnya, permainan tradisonal memuat nilai-nilai edukasi dan sosial yang lebih tinggi daripada game online. Permainan tradisional tidak sekedar menghibur, namun mengolah fisik sekaligus jiwa.
              Buku ini mencoba menyodorkan kembali serta menggugah ingatan kita pada masa-masa kecil di waktu dulu, dimana permainan tradisional ternyata sungguh bermanfaat, seperti ular naga, cang kacang panjang, atau gasingan. Berbeda dengan semakin merambahnya game online yang sempat mengkhawatirkan para orang tua dan guru. Beberapa fakta di surat kabar memaparkan bahwa banyak anak-anak depresi karena kalah bermain dalam game online. Prestasi belajar menjadi merosot. Orang tua dan guru menjadi miris menghadapi kondisi seperti itu. Permainan tradisonal yang terpapar sebanyak lebih dari 100 ini, justru sebaliknya. Keterlibatan fisik, emosi, kerjasama, saling menghargai, berlapang dada, kesabaran, mengatur strategi, semua tertuang di dalamnya. Kalau mau mengangkat kecerdasan majemuk anak, dalam permainan tradisonal semua ada.
              Olah raga, olah pikir, dan olah jiwa tertuang dalam permainan tradisonal. Sudah saatnya kini meninggalkan game online yang kurang bermanfaat. Lewat buku ini para orang tua dan guru dapat menerapkan di rumah atau di sekolah sebagai materi pengayaan. Juga sebagai bahan rujukan pada saat memperingati HUT RI, atau peringatan hari-hari besar nasional lainnya, materi out bond, sarana bermain di sekolah, dan lain-lain. Bahkan permainan tradisional ini juga bisa digunakan oleh orang dewasa dengan tambahan variasi atau modifikasi.
            Buku ini menyajikan tiga bagian permainan tradisional. Permainan di luar rumah diantaranya,  lompat tali, sedang apa, mencari jejak, jengkalan, atau bola lingkaran. Bagian kedua, permainan di dalam rumah, misalnya do mi ka do, bingo, pesan berantai, dan pam semambu. Bagian ketiga, permainan rakyat 17 Agustusan, contohnya kelereng sendok, pensil dalam botol, benang dan jarum, atau tali sepatu.  
Di samping menuturkan cara bermain, buku ini dilengkapi pula dengan skill level untuk mengetahui kegiatan dan tujuan permainan. Misalnya,  pada permainan si lutung, level ketangkasannya ada lima poin, kepemimpinan dua poin, kerja sama dan kreativitas lima poin, wawasan tiga poin, kejujuran dua poin. Jadi untuk permainan jenis ini, ketangkaan, kreativitas, dan kerja sama sangat diasah. Namun bila orang tua atau guru ingin mengasah kepemimpinan anak, maka jenis permainan panjat pinang atau balap bakiak adalah pilihan yang lebih tepat, dengan cara melihat skill level tadi.
Tak perlu diragukan lagi, bahwa permainan tradisional memiliki beragam aspek yang bisa diraih untuk meningkatkan kemampuan anak. Dalam salah satu hadist Rasulullah SAW bersabda, keringat anak kecil menambah kecerdasannya di waktu dewasa (H.R. Tirmidzi).

This is true....."Seorang Pendidik dan seorang Kreator"

            Kreatifitas pada dasarnya merupakan anugrah yang diberikan oleh Allah S.W.T kepada setiap orang. Yakni berupa kemampuan untuk mencipta ( daya cipta) dan berkreasi. Implementasi dari kreatifitas seseorang pun tidaklah sama. Semua bergantung kepada sejauh mana orang tersebut mau dan mampu mewujudkan daya ciptanya menjadi sebuah kreasi ataupun karya.
            Bagi seorang guru, keberhasilan dan kreatifitasnya dalam mengajar ditentukan oleh beberapa faktor, internal maupun eksternal. Faktor internal terdiri dari motivasi, kepercayaan diri, dan kreatifitas guru itu sendiri. Sedangkan faktor eksternal lebih ditekankan pada sarana serta iklim sekolah yang bersangkutan.
            Faktor internal dan eksternal adalah dua hal yang saling bersinggungan. Motivasi dan kepercayaan diri seorang guru dalam berkreasi akan sangat pula ditentukan oleh faktor eksternalnya. Sistem sekolah dan iklim yang kondusif akan membentuk sebuah pembelajaran yang kreatif dan inovatif.
            Dalam tulisan ini akan diulas tentang kreatifitas seorang guru dalam mengajar sehingga menstimulasi siswa untuk menghasilkan sebuah produk yang kreatif. Dalam hal ini pula, seorang guru misalnya, mampu mengoptimalkan kreatifitas siswanya yang tertuang dalam produk hasil karya siswa, walaupun bermodalkan sarana dan prasarana yang sederhana. Artinya, seorang guru harus mampu mengoptimalkan sarana seadanya namun mampu pula mencipkan sebuah karya yang spektakuler yang berhasil dibuat oleh siswanya.
           
Banyak hal yang dapat dilakukan oleh guru agar siswanya menjadi kreator ulung. Pada pelajaran ekstra Teknologi Tepat Guna sederhana, justru siswa bisa kita bekali dengan sarana sederhana dan bahkan dari barang-barang bekas untuk menjadikan sebuah teknologi canggih, yaitu pembuatan Robot Soccer.
           
Pada pembelajaran ini, siswa mengenal fungsi dinamo. Selain konsep yang diterima siswa, mereka diajak untuk memanfaatkan barang-barang mainannya, mobil-mobilan atau bola plastik misalnya. Mainan mereka yang sudah tidak dipakai lagi masih bisa dimanfaatkan  sehingga menghasilkan sebuah kreasi yang luar biasa. Dalam hal ini guru membekali siswa untuk tidak konsumtif . Bahwa mainan robot pun bisa mereka ciptakan sendiri.  

Semua bidang studi atau pelajaran dapat membuat siswa kreatif. Bila guru terus berusaha maksimal mencari hal-hal baru yang inovatif untuk siswa, maka hal ini akan menjadi seperti virus yang menular pada siswa. Siswa pun akan tertular oleh virus kreatifitas kita sebagai guru. Tidak ada kata menyerah untuk menghasilkan sebuah pembelajaran yang menyenangkan.

            Pembelajaran yang kreatif cukup ampuh untuk memotivasi siswa dalam berkarya dan meningkatkan prestasi mereka, juga di pelajaran-pelajaran lainnya. Yang paling menarik adalah siswa mendapatkan pengalaman yang menyenangkan, dan kecakapan hidup yang akan mereka gunakan sepanjang hidup mereka.
           
Kata-kata motivasi terus dikumandangkan oleh guru setiap hari agar mereka tahu bahwa mereka adalah siswa yang cerdas dan kreatif. Bisa lewat mading kelas, di pintu-pintu kelas, atau di tempat-tempat lain dimana mereka bisa dengan mudah membacanya.

            Seperti disebutkan di atas bahwa produk kreatif tidak sebatas pada pelajaran tertentu saja, dapat dihasilkan pula dari pelajaran yang lain. Ini semakin menguatkan sebuah asumsi bahwa pembelajaran kreatif berasal dari guru yang kreatif pula. Dan itu menular ! Contoh pelajaran IPS pada materi menjelaskan lingkungan rumah serta letak rumah. Lagi-lagi guru dihadapkan pada bentuk implementasi yang sebenarnya dari materi tersebut. Bagaimana bentuk kreatifitas pembelajarannya? Contoh, guru selain menjelaskan konsep lingkungan rumah, siswa juga dapat distimulasi untuk membuat maket rumah sederhana dari bahan karton bekas. Siswa betul-betul memvisualisasikan lingkungannya atu rumahnya dalam bentuk mini. Dipastikan mereka asyik dalam menciptakan produknya sendiri.

Stimulasi-stimulasi seperti di atas berakibat besar untuk melejitkan potensi siswa. Pemanfaatan media sederhana di sekitar mereka seperti tutup botol, koran bekas, majalah bekas, kardus, kulit kacang, kain perca, dan lain-lain, adalah sarana untuk melejitkan kratifitas siswa. Guru kreatif akan menyulap media sederhana tersebut menjadi bagian dari sarana belajar dan akan memberikan pengalaman yang hidup yang berarti bagi siswa. Namun, yang perlu digaris bawahi pula adalah, agar seorang siswa  melejit seluruh kecerdasannya, dia harus bebas dari segala ancaman, tekanan, dan ketakutan. Kegiatan belajar-mengajar yang diselenggarakan harus memunculkan semangat dan gairah yang luar biasa.

            Dari beberapa contoh di atas, maka dapat dikatakan bahwa kreatifitas serta aktivitas mengajar guru, seharusnya mampu mengispirasi siswa untuk membuat karya kreatif, berprestasi lebih optimal, dan mampu menjadikan mereka anak-anak yang tak henti-hentinya untuk terus berpikir kreatif. Pembelajaran yang berhasil adalah pembelajaran yang terealisasi dalam kehidupan sehari-hari siswa itu dengan baik. Dan yang lebih utama adalah pembelajaran tersebut mampu membekali mereka dengan life skill yang akan berguna bagi kehidupan mereka di masa yang akan datang. Dengan kata lain, guru telah menyemai benih, menyiram, dan memupuk sebuah bibit unggul dengan baik. Siswa akan menjadi bibit unggul yang kelak akan menjadi manusia berguna dan bermanfaat bagi orang lain.
           












Awali dan Sisipi dengan Motorik

            Pada dasarnya setiap anak suka bergerak. Melompat, berlari, melempar dan menangkap bola, dan beberapa kegiatan yang membuatnya beranjak dari tempat duduk. Namun bila kegiatan bergerak atau motorik tersebut terarah atau diarahkan, menjadi gerakan yang teratur dan bermakna, akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Menurut para ahli neurology, kegiatan motorik yang terarah dapat meningkatkan potensi otak.  
            Perkembangan otak dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.  Faktor internal dipengaruhi oleh genetik (keturunan) yang berkisar antara 30-60%. Sementara selebihnya, perkembangan otak dipengaruhi opleh faktor eksternal. Diantaranya, gizi yang seimbang, cinta, interaksi, seni, dan gerakan ( motorik), ( Sidiarto, 2007).
            Faktor penunjang yang terakhir, yaitu kegiatan motorik, seringkali mendapatkan porsi yang tidak seimbang dengan kegiatan kognitif  lain di sekolah. Bisa jadi kegiatan motorik dianggap kurang penting, membutuhkan waktu lebih lama, bukan materi esensi, hanya dapat dilakukan pada saat pelajaran olah raga, dan sebagainya. Kiranya, pandangan seperti itu perlu dibuang jauh-jauh. Sudah saatnya, kegiatan motorik menjadi bagian aktifitas belajar di sekolah.
            Aktivitas motorik bukanlah sesuatu yang memberatkan dan membutuhkan waktu lama untuk melakukannya. Pada dasarnya, kalau kemauan itu ada pada setiap guru, maka hal itu akan terasa mudah. Lantas, kapan guru dapat melakukan kegiatan motorik bersama siswa? Ada beberapa alternatif waktu, misalnya, pertama, di pagi hari sebelum pelajaran dimulai, ajak para siswa untuk sejenak melakukan senam pagi sekitar sepuluh sampai lima belas menit. Dengan diiringi musik yang menyenangkan, siswa akan merasa enjoy. Tentunya badan mereka akan berkeringat, namun kesegaran akan muncul karena otot-otot badan bergerak secara terarah dan terpola. Agar tidak bosan, brain gim yang diciptakan Paul Dennison, dapat juga dilakukan secara bergantian. Brain gim ini adalah hasil dari penelitiannya dalam mengatasi kesulitan membaca dan menulis pada anak, serta meningkatkan potensi pada anak yang mengalami kesulitan belajar.
            Kedua, kegiatan motorik dapat juga dilakukan pada saat pergantian pelajaran. Misalnya, pelajaran IPA telah usai, pelajaran berikutnya yaitu IPS. Sebelum pelajaran IPS dimulai, ajaklah siswa untuk melakukan gerakan seperti, berdiri dengan satu kaki dengan mata terbuka. Lalu berdiri dengan satu kaki dengan mata tertutup. Kegiatan lain yaitu, berjalan lurus pada satu lintasan yang lebarnya sekitar telapak kaki orang dewasa. Panjang lintasan lima sampai tujuh meter. Siswa diharapkan tidak melihat pada lintasan, pandangan lurus ke depan, serta tidak keluar dari jalur itu. Tentunya tak lupa guru memberikan kata-kata motivasi agar siwa bersemangat melakukannya.
            Agar ada penyegaran, sebelum pelajaran berikutnya dimulai, siswa dapat pula diajak guru keluar kelas sebentar untuk melintasi balok keseimbangan yang telah disiapkan sebelumnya. Media lain seperti ban-ban mobil bekas yang ditata berjajar, dapat juga dijadikan sebagai ajang melatih kelenturan motorik siswa. Siswa diminta untuk melompati atau berjalan diantara lingkaran-lingkaran ban-ban bekas tersebut. Sambil diiringan nyanyian anak, tentunya kegiatan ini akan semakin menyenangkan.
            Ragam kegiatan motorik cukup banyak dan bisa diadaptasi dari buku-buku brain gym yang telah banyak beredar. Yang perlu dilakukan oleh para pendidik selanjutnya adalah memotivasi, membujuk, mengulang-ngulang, dan konsistensi terhadap kegiatan ini. Bila hal ini telah dilakukan, kegiatan motorik dapat menolong siswa mencapai prestasi akademikyang optimal.  
            Ketiga, mengaplikasikan kegiatan motorik kasar atau motorik halus dalam proses pembelajaran tentulah hal yang sangat bermanfaat dan menyenangkan siswa. Sebagai contoh dalam pelajaran IPA, saat siswa mengenal tempat tinggal hewan atau mengenal jenis tumbuhan, guru kreatif akan menstimulasi panca indera siswa dengan cara melibatkan motorik halusnya. Misalnya siswa diminta untuk membuat ikan beraneka rupa dengan media plastisin, kertas origami, atau bahan-bahan lain yang mudah didapatkan oleh siswa. Betapa senangnya siswa bila guru tidak melulu memverbalkan materi pelajarannya. Di sini pula akan tercipta komunikasi antar siswa saat mereka bersama-sama membuat karya yang diinginkan. Artinya, dalam pembelajaran tersebut, aspek sosial juga disentuh oleh guru. Betapa kompleksnya pengalaman yang diterima siswa, selain sebuah konsep materi pelajaran, juga otak kanan mereka mendapatkan makanan yang bergizi lewat penciptaan karya-karya yang luar biasa.
                        Menstimulasi motorik halus lewat indera peraba dapat juga dilakukan agar siswa medapatkan kekayaan pengalaman belajar. Pada pelajaran menulis di kelas awal, guru dapat meminta siswa untuk menelusuri dengan jari-jarinya, huruf-huruf yang tercetak tebal pada kertas, kardus bekas, atau pada steorofom,  sehingga jari-jari lembut siswa benar-benar dapat merasakan sentuhan pada huruf tersebut.
            Menggunakan media yang berbeda pun dapat dilakukan agar kegiatan lebih variatif, misalnya pasir atau tepung. Sediakan pasir yang bersih atau tepung di sebuah wadah. Biarkan anak membuat huruf, angka, atau bentuk-bentuk geometri pada pasir atau tepung tersebut menggunakan jari-jari  mereka.   Aktivitas gerak, seperti latihan di atas, yang dipadu dengan sensori indera akan  mengubah sensasi (rasa) menjadi persepsi (pemahaman atau daya memahami).
            Untuk membimbing anak agar lebih optimal lagi dalam proses pembelajaran, tentunya perlu dilakukan juga beberapa hal, diantaranya:
a). kegiatan refleksi dan evaluasi terhadap pembelajaran atau latihan-latihan. Dengan demikian guru akan segera tahu perkembangan siswa dan segera mengambil langkah lanjutan untuk mengoptimalkan perkembangannya.
b). kegiatan yang bervariasi sehingga anak tidak mudah bosan melakukan kegiatan motorik ini.
c). kerjasama antar sekolah dengan orang tua dalam hal perkembangan siswa perlu sehingga anak mendapatkan curah bimbingan yang lebih baik.

Kecerdasan Multidimensi

Anakmu bukan milikmu
Mereka adalah putra-putri Sang Hidup
Yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka lahir lewat engkau, tetapi bukan milikmu
Berilah mereka kasih sayang
Namun jangan berikan pemikiranmu
Karena pada mereka ada alam pikiran sendiri
Patut kau berikan rumah bagi raganya
Namun tidak bagi jiwanya
Sebab mereka adalah penghuni rumah masa depan
Yang tiada dapat kau kunjungi, sekalipun dalam mimpi
Engkau boleh berusaha menyerupai engkau
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur
Atau pun tenggelam ke masa lampau
Engkau busur tempat anakmu
Anak panah hidup melesat pergi

(Kahlil Gibran)


Siapakah anak kita? Apa bakat mereka? Berapa nilai matematika dan IPA mereka? Mengapa tidak ditanyakan pada mereka: hari ini telah mencetak gol berapa pada saat bermain sepak bola? Adakah teman yang kamu bantu sehingga permasalahannya selesai? Sudahkan kamu mengendalikan marahmu saat ada temanmu yang mengganggu? Adakah puisi atau gambar yang kamu buat hari ini? Sudah berapa tanaman yang kamu pelihara sejak kelas satu?

Betapa luas dan banyak pertanyaan yang bisa diajukan pada anak, daripada sekadar bertanya berapa nilai matematika atau IPA yang kamu raih? Jauh sebelum Howard Garner menelurkan kecerdasan majemuk (multiple intelligenses), Rasulullah SAW telah mengingatkan para orang tua juga guru untuk membimbing anak dengan memerhatikan bakatnya. Karena anak begitu unik, dimana satu sama lainnya berbeda dalam minat dan kecerdasannya.

Perhatikan hadist yang sudah sering dibahas di berbagai forum diskusi atau majelis taklim ini,
"Kewajiban orang tua kepada anaknya adalah memberikan nama yang baik, mendidik (perilaku yang baik), mengajarkan  berenang, memanah, berkuda, memberi makan dengan makanan yang baik serta menikahkan apabila telah dewasa".  
( H.R. Hakim ).

Kajilah lebih dalam isi hadist tersebut. Rasulullah SAW sebagai teladan kita, ternyata telah mengajarkan kita sebagai orang tua dan guru tentang kecerdasan majemuk. Bahkan telah lebih 14 abad yang lalu, Rasulullah SAW mengingatkan setiap insan untuk mendidik anak dengan cara-cara manusiawi.

 Kewajiban orang tua kepada anaknya adalah memberikan nama yang baik, mendidik (perilaku yang baik),…….

Orang tua atau guru pertama-tama diminta untuk menstimulasi kecerdasan diri (intrapersonal)  terlebih dahulu.  Memberinya nama-nama yang baik sebagai identitas diri. Memberikan nama yang baik adalah awal seorang manusia untuk mulai mengenal dan memahami dirinya sendiri. Melalui pengenalan diri ini, anak akan mampu mengetahui kekuatan dan keterbatasan yang ada pada dirinya. 
Seorang anak yang cerdas diri menyadari dan mengerti arti emosi diri sendiri dan emosi orang lain, khususnya dalam situasi konflik. Oleh karena itu, dalam kurikulum sekolah pun, tema Aku biasanya menjadi tema pertama yang disuguhkan di kelas.

mengajarkan  berenang …..

Muslim yang kuat lebih baik dari muslim yang lemah.  Hadist ini seringkali dikutip untuk mengingatkan akan pentingnya menjaga jasmani kita selain sisi ruhani. Hal ini sejalan dengan kewajiban orang tua untuk mengajarkan anaknya berenang.   
Saat berenang seluruh anggota psikomotor difungsikan secara optimal.  Mulai dari kepala sampai kaki bekerja bersama.  Karenanya berenang dapat dijadikan simbol latihan fisik yang dimaksudkan untuk melatih kecerdasan tubuh/kinestetis. Kecerdasan ini meliputi kemampuan fisik seperti koordinasi, keseimbangan, kekuatan, kelenturan, kecepatan dan kemampuan menerima rangsangan atau merespon sentuhan. Anak-anak seperti ini menunjukkan minat pada karier sebagai atlet, dokter bedah, atau senang bermain drama.

Selasa, 10 Mei 2011

Milik Kita Bersama!

Berawal dari manakah masa depan bangsa ini dibangun? Dari dunia pendidikan jawabnya. Bangsa kita sangat menaruh perhatian sangat besar pada dunia pendidikan. Dari dunia pendidikan inilah diharapkan masa depan bangsa ini dibangun dengan landasan yang kokoh dan kuat. Landasan yang bertumpu pada moral agama, pengoptimalan potensi anak, profesionalitas sekolah, dan jaminan kualitas sekolah. Hal ini mampu menelurkan manusia–manusia luar biasa yang akan dapat mengubah bangsa ini menjadi lebih maju dan bersaing dengan bangsa lain.

Pendidikan memiliki makna yang sangat dalam. Pendidikan adalah sebuah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya. Potensi yang perlu dikembangkan tersebut bukan materi kognitif semata, namun lebih luhur lagi, yakni memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.  

Pendidikan adalah suatu usaha manusia untuk membina  kepribadian agar sesuai dengan norma-norma atau aturan di dalam masyaratakat. Lantas siapakah yang berkewajiban menjadi pendidik sesungguhnya?  Setiap orang dewasa di dalam masyarakat dapat menjadi pendidik, sebab pendidik merupakan suatu perbuatan sosial yang mendasar untuk petumbuhan atau perkembangan  anak didik menjadi manusia yang mampu berpikir dewasa dan bijak.   

Kunci menuju pendidikan yang baik adalah keberadaan orang dewasa yang penuh perhatian.  Orang dewasa yang  menunjukkan sikap mendukung dan sangat terlibat dalam pendidikan anak-anak. Orang dewasa di sekitar anak yang pertama adalah orang tua, berikutnya guru di sekolah.  Orang tua sebagai lingkungan pertama dan utama dimana anak berinteraksi sebagai lembaga pendidikan yang tertua. Disinilah dimulai suatu proses pendidikan.  Orang tua berperan sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Lingkungan keluarga juga dikatakan lingkungan yang paling utama, karena sebagian besar kehidupan anak di dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima anak adalah dalam keluarganya.  

Guru sebagai mitra orang tua juga memiliki peran besar dalam tumbuh kembang anak. Keberhasilan seorang anak saat dewasa, apakah ia akan menjadi manusia berbakat, berakhlak mulia, atau jadi penjahat sekalipun, sukses atau gagal, dipengaruhi pula oleh didikan guru. Bahkan Rasulullah SAW pun mengawali masa kecilnya dalam bimbingan seorang guru, sekaligus ibu susunya, yakni Halimatus Sa’diyah. Halimahlah yang mengajarkan Rasulullah tentang cara bertutur kata dan bersikap baik. Keluarga Abu Mutholib memercayakan pengasuhan Muhammad kecil kepada Halimah yang berasal dari suku Sa’ad. Suku Sa’ad terkenal dengan kemurnian bahasanya.  

Agar pendidikan berhasil optimal, orang tua dan guru perlu memiliki pengetahuan dan kesamaan visi yang shahih (benar) dan jelas akan arah pendidikan anak. Memberi bekal dan  mengarahkan pendidikan anak pada sikap bersyukur kepada Allah dan pada perbuatan-perbuatan kebajikan (amal shalih) yang diridhai Allah. Visi ini harus melekat pada orang tua dan guru di tengah berbagai tarikan-tarikan materialisme dalam tujuan kehidupan.

Orang tua beserta guru  harus memiliki pula  kualitas diri yang memadai, sehingga anak-anak akan berkembang sesuai dengan harapan. Artinya orang tua dan guru perlu memahami hakikat dan peran mereka sebagai orang tua dalam membesarkan anak, membekali diri dengan ilmu pengetahuan yang tepat, ilmu perkembangan anak, pintar dalam menjaga perilaku, sehingga menjadi contoh positif bagi anak-anak.  

Menerapkan suatu pola pendidikan terutama dalam membangun kepribadian anak yang sesuai dengan tujuan pendidikan itu sendiri, merupakan tantangan besar.  Orang tua misalnya, harus cukup sering berinteraksi dengan lembaga pendidikan tempat anaknya bersekolah. Bersama-sama guru, memantau perkembangan anaknya. Beberapa hal bisa dilakukan orang tua agar tujuan pendidikan tercapai; membimbing anak belajar di rumah, membangun rasa percaya diri anak, memberi pujian, bercanda atau bersenda gurau dengan anak, dan aktif dalam forum parenting.  

Sekolah dan guru pun dapat melakukan hal serupa di atas karena sekolah salah satu kekuatan besar untuk menciptakan agen perubahan. Pendidikan akan berhasil bila dikelola oleh guru yang handal, memiliki visi, memiliki kepercayaan dan rasa cinta yang agung pada peserta didik, terus menerus membuka komunikasi dengan orang tua lewat buku penghubung, telepon, sms, atau email. Guru adalah inspirasi bagi anak didik, karena mereka akan menerapkan apa yang mereka lihat, dengar, rasakan dari lingkungan sekolahnya.  

Buah dari pendidikan yang baik adalah anak-anak yang berakhlak mulia, berkualitas, dan memiliki daya tahan tinggi dalam menghadapi masa depannya. Hal itu Insya Allah  tercapai bila komponen orang tua dan guru berjalan secara harmonis. Pendidikan bukan milik orang tua saja, atau sekolah saja, tapi milik kita bersama. Betapa besar makna dan tujuan pendidikan itu, betapa besar pula usaha yang harus dilakukan oleh kita untuk membangun generasi yang rahmatan lil’alamin.