Anakmu bukan milikmu
Mereka adalah putra-putri Sang Hidup
Yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka lahir lewat engkau, tetapi bukan milikmu
Berilah mereka kasih sayang
Namun jangan berikan pemikiranmu
Karena pada mereka ada alam pikiran sendiri
Patut kau berikan rumah bagi raganya
Namun tidak bagi jiwanya
Sebab mereka adalah penghuni rumah masa depan
Yang tiada dapat kau kunjungi, sekalipun dalam mimpi
Engkau boleh berusaha menyerupai engkau
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur
Atau pun tenggelam ke masa lampau
Engkau busur tempat anakmu
Anak panah hidup melesat pergi
(Kahlil Gibran)
Siapakah anak kita? Apa bakat mereka? Berapa nilai matematika dan IPA mereka? Mengapa tidak ditanyakan pada mereka: hari ini telah mencetak gol berapa pada saat bermain sepak bola? Adakah teman yang kamu bantu sehingga permasalahannya selesai? Sudahkan kamu mengendalikan marahmu saat ada temanmu yang mengganggu? Adakah puisi atau gambar yang kamu buat hari ini? Sudah berapa tanaman yang kamu pelihara sejak kelas satu?
Betapa luas dan banyak pertanyaan yang bisa diajukan pada anak, daripada sekadar bertanya berapa nilai matematika atau IPA yang kamu raih? Jauh sebelum Howard Garner menelurkan kecerdasan majemuk (multiple intelligenses), Rasulullah SAW telah mengingatkan para orang tua juga guru untuk membimbing anak dengan memerhatikan bakatnya. Karena anak begitu unik, dimana satu sama lainnya berbeda dalam minat dan kecerdasannya.
Perhatikan hadist yang sudah sering dibahas di berbagai forum diskusi atau majelis taklim ini,
"Kewajiban orang tua kepada anaknya adalah memberikan nama yang baik, mendidik (perilaku yang baik), mengajarkan berenang, memanah, berkuda, memberi makan dengan makanan yang baik serta menikahkan apabila telah dewasa".
( H.R. Hakim ).
( H.R. Hakim ).
Kajilah lebih dalam isi hadist tersebut. Rasulullah SAW sebagai teladan kita, ternyata telah mengajarkan kita sebagai orang tua dan guru tentang kecerdasan majemuk. Bahkan telah lebih 14 abad yang lalu, Rasulullah SAW mengingatkan setiap insan untuk mendidik anak dengan cara-cara manusiawi.
Kewajiban orang tua kepada anaknya adalah memberikan nama yang baik, mendidik (perilaku yang baik),…….
Orang tua atau guru pertama-tama diminta untuk menstimulasi kecerdasan diri (intrapersonal) terlebih dahulu. Memberinya nama-nama yang baik sebagai identitas diri. Memberikan nama yang baik adalah awal seorang manusia untuk mulai mengenal dan memahami dirinya sendiri. Melalui pengenalan diri ini, anak akan mampu mengetahui kekuatan dan keterbatasan yang ada pada dirinya.
Seorang anak yang cerdas diri menyadari dan mengerti arti emosi diri sendiri dan emosi orang lain, khususnya dalam situasi konflik. Oleh karena itu, dalam kurikulum sekolah pun, tema Aku biasanya menjadi tema pertama yang disuguhkan di kelas.
mengajarkan berenang …..
Muslim yang kuat lebih baik dari muslim yang lemah. Hadist ini seringkali dikutip untuk mengingatkan akan pentingnya menjaga jasmani kita selain sisi ruhani. Hal ini sejalan dengan kewajiban orang tua untuk mengajarkan anaknya berenang.
Saat berenang seluruh anggota psikomotor difungsikan secara optimal. Mulai dari kepala sampai kaki bekerja bersama. Karenanya berenang dapat dijadikan simbol latihan fisik yang dimaksudkan untuk melatih kecerdasan tubuh/kinestetis. Kecerdasan ini meliputi kemampuan fisik seperti koordinasi, keseimbangan, kekuatan, kelenturan, kecepatan dan kemampuan menerima rangsangan atau merespon sentuhan. Anak-anak seperti ini menunjukkan minat pada karier sebagai atlet, dokter bedah, atau senang bermain drama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar