Jumat, 03 Juni 2011

Awali dan Sisipi dengan Motorik

            Pada dasarnya setiap anak suka bergerak. Melompat, berlari, melempar dan menangkap bola, dan beberapa kegiatan yang membuatnya beranjak dari tempat duduk. Namun bila kegiatan bergerak atau motorik tersebut terarah atau diarahkan, menjadi gerakan yang teratur dan bermakna, akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Menurut para ahli neurology, kegiatan motorik yang terarah dapat meningkatkan potensi otak.  
            Perkembangan otak dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.  Faktor internal dipengaruhi oleh genetik (keturunan) yang berkisar antara 30-60%. Sementara selebihnya, perkembangan otak dipengaruhi opleh faktor eksternal. Diantaranya, gizi yang seimbang, cinta, interaksi, seni, dan gerakan ( motorik), ( Sidiarto, 2007).
            Faktor penunjang yang terakhir, yaitu kegiatan motorik, seringkali mendapatkan porsi yang tidak seimbang dengan kegiatan kognitif  lain di sekolah. Bisa jadi kegiatan motorik dianggap kurang penting, membutuhkan waktu lebih lama, bukan materi esensi, hanya dapat dilakukan pada saat pelajaran olah raga, dan sebagainya. Kiranya, pandangan seperti itu perlu dibuang jauh-jauh. Sudah saatnya, kegiatan motorik menjadi bagian aktifitas belajar di sekolah.
            Aktivitas motorik bukanlah sesuatu yang memberatkan dan membutuhkan waktu lama untuk melakukannya. Pada dasarnya, kalau kemauan itu ada pada setiap guru, maka hal itu akan terasa mudah. Lantas, kapan guru dapat melakukan kegiatan motorik bersama siswa? Ada beberapa alternatif waktu, misalnya, pertama, di pagi hari sebelum pelajaran dimulai, ajak para siswa untuk sejenak melakukan senam pagi sekitar sepuluh sampai lima belas menit. Dengan diiringi musik yang menyenangkan, siswa akan merasa enjoy. Tentunya badan mereka akan berkeringat, namun kesegaran akan muncul karena otot-otot badan bergerak secara terarah dan terpola. Agar tidak bosan, brain gim yang diciptakan Paul Dennison, dapat juga dilakukan secara bergantian. Brain gim ini adalah hasil dari penelitiannya dalam mengatasi kesulitan membaca dan menulis pada anak, serta meningkatkan potensi pada anak yang mengalami kesulitan belajar.
            Kedua, kegiatan motorik dapat juga dilakukan pada saat pergantian pelajaran. Misalnya, pelajaran IPA telah usai, pelajaran berikutnya yaitu IPS. Sebelum pelajaran IPS dimulai, ajaklah siswa untuk melakukan gerakan seperti, berdiri dengan satu kaki dengan mata terbuka. Lalu berdiri dengan satu kaki dengan mata tertutup. Kegiatan lain yaitu, berjalan lurus pada satu lintasan yang lebarnya sekitar telapak kaki orang dewasa. Panjang lintasan lima sampai tujuh meter. Siswa diharapkan tidak melihat pada lintasan, pandangan lurus ke depan, serta tidak keluar dari jalur itu. Tentunya tak lupa guru memberikan kata-kata motivasi agar siwa bersemangat melakukannya.
            Agar ada penyegaran, sebelum pelajaran berikutnya dimulai, siswa dapat pula diajak guru keluar kelas sebentar untuk melintasi balok keseimbangan yang telah disiapkan sebelumnya. Media lain seperti ban-ban mobil bekas yang ditata berjajar, dapat juga dijadikan sebagai ajang melatih kelenturan motorik siswa. Siswa diminta untuk melompati atau berjalan diantara lingkaran-lingkaran ban-ban bekas tersebut. Sambil diiringan nyanyian anak, tentunya kegiatan ini akan semakin menyenangkan.
            Ragam kegiatan motorik cukup banyak dan bisa diadaptasi dari buku-buku brain gym yang telah banyak beredar. Yang perlu dilakukan oleh para pendidik selanjutnya adalah memotivasi, membujuk, mengulang-ngulang, dan konsistensi terhadap kegiatan ini. Bila hal ini telah dilakukan, kegiatan motorik dapat menolong siswa mencapai prestasi akademikyang optimal.  
            Ketiga, mengaplikasikan kegiatan motorik kasar atau motorik halus dalam proses pembelajaran tentulah hal yang sangat bermanfaat dan menyenangkan siswa. Sebagai contoh dalam pelajaran IPA, saat siswa mengenal tempat tinggal hewan atau mengenal jenis tumbuhan, guru kreatif akan menstimulasi panca indera siswa dengan cara melibatkan motorik halusnya. Misalnya siswa diminta untuk membuat ikan beraneka rupa dengan media plastisin, kertas origami, atau bahan-bahan lain yang mudah didapatkan oleh siswa. Betapa senangnya siswa bila guru tidak melulu memverbalkan materi pelajarannya. Di sini pula akan tercipta komunikasi antar siswa saat mereka bersama-sama membuat karya yang diinginkan. Artinya, dalam pembelajaran tersebut, aspek sosial juga disentuh oleh guru. Betapa kompleksnya pengalaman yang diterima siswa, selain sebuah konsep materi pelajaran, juga otak kanan mereka mendapatkan makanan yang bergizi lewat penciptaan karya-karya yang luar biasa.
                        Menstimulasi motorik halus lewat indera peraba dapat juga dilakukan agar siswa medapatkan kekayaan pengalaman belajar. Pada pelajaran menulis di kelas awal, guru dapat meminta siswa untuk menelusuri dengan jari-jarinya, huruf-huruf yang tercetak tebal pada kertas, kardus bekas, atau pada steorofom,  sehingga jari-jari lembut siswa benar-benar dapat merasakan sentuhan pada huruf tersebut.
            Menggunakan media yang berbeda pun dapat dilakukan agar kegiatan lebih variatif, misalnya pasir atau tepung. Sediakan pasir yang bersih atau tepung di sebuah wadah. Biarkan anak membuat huruf, angka, atau bentuk-bentuk geometri pada pasir atau tepung tersebut menggunakan jari-jari  mereka.   Aktivitas gerak, seperti latihan di atas, yang dipadu dengan sensori indera akan  mengubah sensasi (rasa) menjadi persepsi (pemahaman atau daya memahami).
            Untuk membimbing anak agar lebih optimal lagi dalam proses pembelajaran, tentunya perlu dilakukan juga beberapa hal, diantaranya:
a). kegiatan refleksi dan evaluasi terhadap pembelajaran atau latihan-latihan. Dengan demikian guru akan segera tahu perkembangan siswa dan segera mengambil langkah lanjutan untuk mengoptimalkan perkembangannya.
b). kegiatan yang bervariasi sehingga anak tidak mudah bosan melakukan kegiatan motorik ini.
c). kerjasama antar sekolah dengan orang tua dalam hal perkembangan siswa perlu sehingga anak mendapatkan curah bimbingan yang lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar