Identitas buku:
Judul : Einstein Never Used Flash Cards
Bagaimana Sesungguhnya Anak-Anak Belajar dan Mengapa Mereka Harus
Banyak Bermain dan Sedikit Menghafal
Pengarang : Kathy Hirsh Pasek, PhD., Roberta M. Golinkoff,PhD., Diane Eyer, PhD.
Penerbit : KAIFA
Tahun Terbitan : 2005
Tebal Buku : 405 halaman
Diresensi oleh : rikamumtaz
Bermain bagi seorang anak bagai makanan pokok. Bahkan mungkin seperti bensin bagi kendaraan bermotor. Bagi Kathy Hirsh Pasek, penulis buku ini, pandangan mereka memang kontras dengan pandangan para orang tua yang salah kaprah tentang pendidikan anak dan makna kecerdasan. Tidak sedikit orang tua yang membatasi ruang bermain anaknya. Anak-anak malang itu dibebani dengan banyak pelajaran sejak usia dini serta dipaksa banyak menghafal.
Buku ini hadir untuk menjawab keresahan banyak orang tua terhadap perkembangan anaknya bila dibandingkan perkembangan anak orang lain. Di sisi lain begitu banyak anak yang menjalani masa kanak-kanaknya dengan tergesa-gesa. Banyak orang tua berlomba-lomba menciptakan anak-anaknya lebih pintar pada usia sangat muda, misalnya dengan mendaftarkan anaknya pada kursus atau les musik, berkuda, berhitung, guru-guru privat, bahasa asing, atau renang. Bahkan muncul industri-industri pendidikan bayi, yang menemukan kelompok konsumen yang cukup bersemangat untuk mengembangkan kecerdasan bayinya. Misalnya muncul CD-CD musik Mozart. Mereka sangat meyakini musik Mozart dapat mengembangkan kecerdasan bayi mereka.
Munculnya buku ini mencoba menerobos pandangan yang berbeda dengan konsep mereka. Menurut penulis, budaya memuja kesuksesan membuat hilangnya masa kanak-kanak. Anak – anak diberi pakaian orang dewasa. Seakan-akan orang tua menjadi tidak percaya diri kalau tidak mengikuti perkembangan industri ” mendewasakan anak secara dini ”. Anak-anak diprogram sedemikian rupa sehingga mereka tidak memiliki waktu istrihat dan bermain yang memadai.
Einstein Never Used Flash Cards menentang semua praktik yang keliru dengan membeberkan hasil penelitian terbaru tantang cara yang alamiah membantu anak-anak tumbuh dan belajar. Anak-anak perlu dibiarkan mengembangkan rasa ingin tahunya sendiri. Anak-anak prasekolah yang dibebaskan menikmati masa bermain akan lebih sukses ketimbang anak yang dipaksa menghafal dan digenjot perkembangan intelektualnya.
Buku yang menantang ini berisi 10 bab mengungkap beberapa cara yang bisa dilakukan para orang tua agar dapat mengembangkan kemampuan anaknya secara alamiah.
Bab I : Keresahan Orang Tua Masa Kini
Pada bab ini digambarkan tentang keresahan banyak orang tua menghabiskan uang jutaan untuk membeli permainan pendidikan di mal. Para orang tua berlomba memasukkan anak-anaknya pada club-club belajar. Kalau tidak melakukan itu, mereka seperti orang tua yang tidak mengikuti perkembangan dunia pendidikan. Ditambah lagi dengan booming buku-buku penelitian seperti Bring Out the Genius in Your Child karya Ken Adams dan 365 Ways to a Smarter Presschoolers karya Marilee Roobin Burton (di Indonesia, buku-buku sejenis banyak juga bermunculan, baik karya penulis barat maupun penulis Indonesia). Fokus orang tua menyiapkan perkembangan kecerdasan anak-anak semakin tidak terkendali. Orang tua mengambil masa anak-anak dan memperlakukan mereka seperti orang dewasa cilik.
Bab II : Anak Genius: Bagaimana Bayi Dibentuk untuk Belajar?
Pada bab ini pembaca akan di”tabrakkan” pada penemuan yang menentang teori Efek Mozart Pada Kecerdasan Bayi. Selama ini kita sangat yakin bahwa musik klasik akan meningkatkan kecerdasan anak bahkan bayi yang masih dalam kandungan pun bisa menerima stimulasi efek Mozart ini. Hal ini sangat ditentang oleh penulis buku ini. Mendengarkan komposisi klasik mungkin akan mempengaruhi suasana hati, tapi tidak IQnya. Tidak hanya Mozart yang bisa diperdengarkan pada bayi sebenarnya. Orang tua bisa menyanyikan lagu Nina Bobo, Simon and Garfunkel, Twinkle-Twinkle Little Star, atau yang lain.
Bab III : Memainkan Angka : Bagaimana Anak Belajar Tentang Kuantitas?
Bagaimana dengan kemampuan berhitung anak? Bab ini mendeskripsikan beberapa langkah anjuran agar anak bisa mengenal bilangan atau berhitung tanpa merasa tertekan. ”Meloncat ke depan” dirasa tidak terlalu penting. Itu akan membuat anak merasa phobia dengan angka. Menurut buku ini, membiarkan anak menemukan sendiri dengan perlahan konsep berhitung saat bermain atau menelaah benda-benda di rumahnya, membuat anak lebih berpengalaman dalam berhitung.Misalnya saat menata piring dan sendok di meja makan, anak akan secara alami menghitung jumlah sendok dan piring yang dibutuhkan untuk makan sesuai dengan jumlah anggota keluarga.
Bab IV : Bahasa : Kekuatan Mengoceh
Pada Bab ini dijabarkan banyak kegiatan sederhana yang bisa dilakukan orang tua di rumah untuk meningkatkan kemampuan berbahasanya, namun dapat memuncukan kekuatan bahasa anak. Saat berinteraksi, atau sambil mengerjakan pekerjaan rumah, dengarkan lebih banyak apa yang anak sampaikan pada orang tua. Tanggapi cerita mereka, beri pertanyaan-pertanyaan tentang topik yang mereka utarakan. Diskusikan tentang yang disukai anak atau tidak disukainya. Tidak perlu menggunakan flash cards kosa kata, atau program komputer.
Bab V : Kemampuan Membaca: Membaca Hal yang Tersirat
Hal yang tepenting, seperti yang dijelaskan bab ini adalah, ciptakan suasana yang menyenangkan saat membaca. Tanyakan pada anak di sela kegiatan membaca, mengapa gunung ini terlihat kecil? Menurutmu, bagaimana perasaan Oni saat menemukan kucingnya kembali? Biarkan anak menunjuk-nunjuk gambar atau mengoceh tentang gambar atau halaman-halaman buku.
Bab VI : Misi Mendefinisikan Kecerdasan
Banyak orang tua memaksakan putra-putrinya masuk dunia pendidikan prasekolah yang berorientasi keberhasilan. Bahkan orang tua tidak puas dengan sebutan normal atau rata-rata. Bab ini akan membuka wawasan orang tua, bahwa kecerdasan itu tidak semata nilai-nilai atau angka 10 pada rapor. Kecerdasan tidak bisa diukur hanya dari IQ saja. Masuklah ke zona anak, sehingga orang tua benar-benar tahu kecerdasannya.
Bab VII : Siapakah Saya? Mengembangkan Konsep Diri
Dalam banyak cara, anak dapat mengembangkan konsep dirinya tanpa banyak bantuan dari orang tua. Bab ini memaparkan lebih jauh bagaimana peran orang tua dalam membentuk konsep diri pada anak. Berbicara pada anak dan undang mereka untuk berbicara bagaimana perasaan mereka. Bagaimana menunjukkan rasa sedih, gembira, atau takut. Bab ini juga mengajarkan orang tua agar menghindari mengacuhkan atau meremehkan perasaan anak.
Bab VIII : Mengenal Diri Anda : Bagaimana AnakAnak Mengembangkan Kecerdasan Sosial
Kecerdasan sosial dapat dilatih melalui interaksi yang berarti dengan orang lain dalam kehidupan ini. Pada bab 8 ini, dijelaskan bagaimana orang tua mengajarkan anak memperlakukan orang lain, mengapa mereka harus bertingkah demikian, dan bagaimana mereka membangun hubungan pertemanan.
Bab IX : Bermain : Wadah Pembelajaran
Bab ini lebih dalam membahas kiat-kiat pendampingan bermain pada anak sehingga bermain itu benar-benar efektif. Meluangkan waktu bermain dengan anak adalah hal yang sangat membantu mengembangkan kepribadian dan kemampuan anak. Intinya, terjunlah bermain bersama anak.
Bab X : Formula Baru : Cara Mengasuh yang Canggih
Bagian terakhir buku ini memaparkan 4 prinsip yang harus dijalani orang tua agar anaknya bisa berkembang secara alami. Ke 4 prinsip itu menjanjikan efek yang luar biasa pada perkembangan anak. Ke 4 prinsip itu coba diterapkan di rumah sendiri, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Pesan yang penting dalam bab ini adalah, kembalikan masa kanak-kanak kepada anak-anak. Kembalikan keseimbangan kehidupan anak di rumah dan sekolah.
Buku ini penting dibaca semua orang tua dan guru. Dengan mempelajari buku ini, para orang tua akan bisa menjadikan anak mereka seperti Einstein tanpa perlu terburu-buru.Tanpa perlu meloncat menjauhi dunia anak yang sesungguhnya. Tanpa perlu meninggalkan dunia bermain yang begitu menyenangkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar