Jumat, 03 Juni 2011

WALAAH..!!!

Pagi itu suasana kelas 1 cukup tenang. Semua siswa tampak asyik mengerjakan tugasnya. Saat itu tugas yang dikerjakan adalah matematika, IPA, dan IPS. Wah, pelajaran tematik rupanya.
“Suasana cukup aman dan terkendali, hik..hik..hik”ujar Bu Wily senang. Lho, kenapa Bu Wily terkikik, ya? Aneh!
“Ya, Alhamdulillah, semua bisa mengerjakan tugasnya,” sambung Bu Tamara.
            “Hik, hik, hik …,” kikik Bu Wily lagi. Lho!
            “Kenapa Bu, ada yang gak beres dengan suara, Ibu?” tanya Bu Tamara bersimpati.
            “Tadi pagi saya makan durian, terus jadi begini,” jawab Bu Wily.
            “Ibu sih, ga bagi-bagi, jadi gitu deh suaranya,” Bu Tamara agak keki.
            “La, jelas saya ga bagi-bagi. Wong yang saya makan bijinya,”sahut Bu Wily enteng. Bu Tamara, bingung. Mau tambah keki atau dongkol,ya.
            Sst…. Jaga ketenangan! Lagi ada ujian!
Dua orang guru yang sabar itu terus mengawasi siswa yang masih bersemangat mengerjakan tugasnya. Tiba-tiba terdengar gelegar, “Walaah!”
            “Ada apa Riko?” Bu Tamara sudah hafal dengan kebiasaan satu muridnya  ini.  Lihat dari postur tubuhnya, Riko tampaknya banyak  makan, atau suka makan,ya?
Riko siap-siap mengeluarkan gelegarnya lagi. Bu Wily dan Bu Tamara pun telah bersiap menangkisnya, eh bukan, menerimanya, pasrah!
            Dengarlah suara Riko lagi,“BU, SOALNYA KOK SULIT-SULIT SEH!” Harusnya kalimat berakhir tanda tanya (?) tapi karena gelegar, jadi tanda seru (!) aja, ya.
            “Riko belum bisa nomor berapa?”tanya Bu Wily lembut sambil berjalan ke arah Riko. Kali ini suaranya sudah normal. Lanjutnya, “Coba, Riko baca lagi, ya. Pasti Riko, bisa.” Bu Wily terus memberi semangat.
Tapi Bu Wily dan Bu Tamara sudah hafal dengan kebiasaan siswa istimewa ini. Mereka pun siap menunggu kelanjutannya.
“Walaaaah! Sudah dibaca tiga kali. Tapi aku masih bingung!” Riko berdiri lalu menghadap ke papan tulis. Padahal Bu Wily masih di belakangnya, dan Bu Tamara masih di barisan meja belakang. Teman-teman lain tetap konsentrasi mengerjakan tugasnya. Dan lagi, mereka sudah terbiasa dengan aksi panggung Riko.
Riko melanjutkan monolognya, “ Bu!” kali ini Riko menghadap jendela. Jari telunjuknya menunjuk-nunjuk jendela, “Ibu tahu gak seh, aku lho sudah baca bolak-balik. Tapi ulangannya emang sulit!” Riko masih menghadap jendela dan terus menunjuk-nunjuk . La, itu, dua bu guru masih di belakang punggungnya. Terus Riko sedang bicara sama siapa,ya? Hiii…..!
Kini Bu Wily sudah di hadapannya dan tersenyum, “ Riko, coba duduk, lalu dibaca pelan-pelan,ya. Coba hitung lagi. Di coba lagi, ya, Nak? “
Riko melirik tajam Bu Wily dengan ekor matanya. Masih bersungut ia duduk. Dika di sebelahnya ikut bergetar badannya saat Riko duduk. Karena besar tubuh Dika separuhnya Riko. Tak ketinggalan Dika pun dilirik tajam. Dika membalasnya dengan senyum ampuh pepsodent.  Walaah, kata Dika, tapi dalam hati.
Kriing….kriing …..kriiing, bel istirahat berdering nyaring. Semua siswa berhamburan ke luar kelas. Tapi enggak semua kok, ada yang berjalan perlahan ke teras. Ada yang makan snack yang dibawa dari rumah. Ada pula beberapa siswa makan snack yang dipesan di sekolah. Sebagian siswa membentuk kelompok kecil arisan.
Bu Wily dan Bu Tamara tak ketinggalan untuk break. Sambil menikmati sarapan yang tertunda, mereka saling bercerita. Tiba-tiba sontak terdengar, WALAAH!
Oh, lebih keras dari yang tadi.
Apa yang terjadi? Di depan kantor seorang pak guru terperanjat kaget. Di dekatnya ada sekelompok siswa putri terdiam takut. Di lantai tampak berserakan snack Riko. Riko melotot ke arah snack dan teman-teman putrinya bergantian. Tiba-tiba ia membalikkan badannya ke arah rak sepatu. Lho,kok?
“Kamu kok jatuhin kueku seh! Kamu tau ga? Snack itu sangat enak. Aku dibelikan mamaku!” Riko menunjuk-nunjuk beberapa pasang sepatu sambil melotot. Lho, yang jatuhkan snack kan si Riri? Kok Riko …?
Teman-teman putrinya yang ada di belakang punggungnya semakin menjauh. Pak guru yang sejak tadi kaget, semakin terperangah. Beliau belum kenal Riko tampaknya.
Riko melanjutkan marahnya,” Itu,itu, itu, sama yang itu, mahal harganya, tau!” sambil tetap menunjuk ke arah sepatu. Eiit, dia kini agak menengadah. Menghadap dinding di atas rak sepatu.
“Mmmamaku bebelinya, di supretmaket, di Indomapret, Iindomaret,” Riko agak terengah-engah, telunjuk mengarah ke dinding di atas rak sepatu.
Salah seorang teman memberanikan diri bertanya, “Ko, harganya berapa, sih?”
“Pokoknya, harganya mahal. Titik!” Riko mengeluarkan jurus mautnya, melirik setajam elang.
Waduh, katanya harganya mahal! Berapa puluh ribu, ya?                                            
“Jangan tanya- tanya, tau!” Riko menelengkan kepalanya.
Lho, aku kan bertanya dalam hati, dia kok tau, ya.
“What’s wrong, Bu?”tanya Bu Wily pada Bu Tamara menghentikan acara sarapannya.
“Yuk, kita saksikan bersama!” ajak Bu Tamara.  Eh, Bu Tamara kok bilangnya begitu,sih ? Kayak penyiar TV ngajak nonton bola saja.
Kedua bu guru itu mendekat ke arah keributan. Dan … oh,   “Walaah!” seru mereka serempak sambil memegang dahinya masing-masing.
“Riko!” seru keduanya ke arah murid kesayangan.
Selama ini Bu Wily dan Bu Tamara selalu bersyukur karena mereka diamanahi siswa seperti Riko. Mereka tahu tentang sabar yang sesungguhnya justru dari kondisi Riko sekarang. Mereka jadi banyak belajar  tentang cara penanganan siswa di kelas. Siswa seperti Riko mengilhami banyak ilmu dan kreativitas pada mereka.  Silaturahim pun semakin terjalin dengan orang tua Riko.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar