Jumat, 03 Juni 2011

Resensi Buku

Identitas buku :
Judul                           : Mind Map untuk Anak ( Agar anak lulus ujian dengan nilai bagus)
Pengarang                   : Tony Buzan
Penerbit                       : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbitan            : 2008
Tebal Buku                  : 120 halaman
Diresensi oleh             : rikamumtaz
            Tony Buzan, lewat temuan Mind Map-nya telah melakukan terobosan besar dalam hal mencatat pelajaran. Metode ini diperkenalkan oleh Tony Buzan pada tahun 1974, seorang ahli pengembangan potensi manusia dari Inggris. Salah satu karya besarnya adalah Mind Map untuk Anak. Mind Map bila diterjemahkan menjadi peta pikiran. Peta Pikiran adalah metode mempelajari konsep  yang didasarkan pada cara kerja otak kita saat menyimpan informasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otak kita tidak menyimpan informasi dalam kotak-kotak sel saraf yang terjejer rapi melainkan dikumpulkan pada sel-sel saraf yang berbercabang-cabang yang apabila dilihat sekilas akan tampak seperti cabang-cabang pohon. Dari fakta tersebut dapat disimpulkan bahwa bila kita menyimpan informasi seperti cara kerja otak, maka informasi akan semakin baik tersimpan dalam otak. Hasil akhirnya tentu saja proses belajar kita akan semakin mudah.
Buku ini menuntun pembaca bagaimana sebuah materi pelajaran bisa dirangkum dalam bentuk  gambar, juga simbol-simbol. Dengan demikian, proses belajar menjadi mudah bagi anak. Sangat disarankan dalam buku ini untuk menggunakan pensil, spidol, atau bolpoin warna. Warna akan menguatkan konsep pada otak.
Dengan gaya bahasa ”kamu” ( orang kedua) Tony Buzan ingin mengajak pembaca, terutama anak usia sekolah, lebih mudah memahami isi buku ini, terasa lebih dekat dengan pembaca, juga agar pembaca mudah menerapkan trik-trik membuat mind map. Bagi guru atau orang tua, buku ini bisa dijadikan panduan untuk mengajar efktif atau membimbing belajar anak di rumah.
Di samping kegunaannya untuk memudahkan siswa belajar, teknik mind map juga bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pada salah satu babnya, dibahas cara menuliskan daftar belanja mudah menggunakan mind map. Juga ada contoh kegunaan mind map untuk mencatat  persiapan bila hendak melakukan perjalan wisata.
            Buku Tony Buzan ini sungguh bermanfaat sebagai alat bantu belajar bagi siswa, guru, dan orang tua. Namun sangat disayangkan, ada beberapa contoh mind map yang ditampilkan tidak berwarna, sehingga sedikit mengurangi kekayaan buku ini. Seandainya semua contoh mind map ditampilkan ”full color” tentunya akan membuat pembaca semakin tertantang untuk menerapkan isinya.

Resensi Buku

Identitas buku :
Judul                           : 60 Permainan Kecerdasan Kinestetik
Pengarang                   : Mohammad Muhyi Faruq, S.Pd, M.Pd
Penerbit                       : PT Grasindo
Tahun Terbitan            : 2008
Tebal Buku                  : 115 halaman
Diresensi oleh             : rikamumtaz
            Banyak orang sukses tidak semata-mata karena kemampuan kognitifnya, tetapi mereka memiliki kemampuan lain yang membuat mereka sukses bahkan mampu bertahan dalam hidupnya secara finansial. Salah satu kemampuan yang dimiliki mereka adalah kecerdasan kinestetik. Kecerdasan kinestetik adalah kemampuan menyelaraskan pikiran dengan badan sehingga apa yang dikatakan dalam pikiran akan tertuang dalam bentuk gerakan-gerakan badan yang indah, kreatif, dan memiliki makna.
            Tentu kita tidak akan lupa dengan nama-nama seperti, Susi Susanti, Taufik Hidayat, yang pernah menjadi pemain bulutangkis terbaik dunia. Andree Agassi pernah pula menjadi pemain terbaik dunia di Wembledon. Nama-nama seperti Ronado, David Beckhmam, Zidan Zidane, memiliki kemampuan tinggi di bidang sepak bola dan terkenal di usia muda. Mereka adalah sebagian dari orang-orang yang memiliki kecerdasan kinestetik yang dibanggakan dan menimbulkan decak kagum.
            Sejak usia dini, kelincahan tubuh manusia dapat dibimbing sampai taraf yang tertinggi. Tubuh akan mudah merespon bahkan dengan cepat, apa yang dikehendaki oleh pikirannya. Tubuh akan bergerak spontan dengan lincah, lentur, bahkan tampak menawan. Untuk mencapai tahap seperti itu, kecerdasan kinestetik perlu distimulasi atau dipupuk sejak dini. Oleh karena itu, buku ini mengajak para orang tua dan guru untuk melatih kecerdasan kinestetik putra putrinya ( siswanya ).
            Latihan untuk mengembangkan kecerdasan kinestetik dalam buku ini terbagi dalam lima bab, yaitu, Mengembangkan Gerak Koordinasi Tubuh, Mengembangkan Gerak Kelincahan, Mengembangkan Gerak Koordinasi Tangan, Kaki, dan Mata, Mengembangkan Gerak Keseimbangan, dan terakhir Mengembangkan Gerak Kekuatan. Di setiap babnya, ada 10-12 contoh permainan dan latihan untuk mengembangkan kecerdasan kinestetik.
            Berikut ini adalah beberapa contoh permainan yang dikembangkan di setiap bab.

Bab I : Mengembangkan Gerak Koordinasi Tubuh.
            Empat  permainan dari dua belas gerakan yang dicontohkan yaitu, menggerakkan pita secara bebas, menangkap balon udara, melangkah mengikuti ukuran garis, dan bertepuk tangan dengan berbagai variasi. Pada bab ini permainan dilakukan untuk melatih koordinasi tubuh agar terjadi keseimbangan gerakan sehingga koordinasi tubuh menjadi tidak kaku.

Bab II : Mengembangkan Gerak Kelincahan
            Tiga permainan dari sepuluh gerakan yang dicontohkan yaitu, berlari menyusun abjad, bongkar pasang puzzle, dan permainan hulahop di pinggang. Bab ini lebih menekankan pada kelincahan gerakan sehingga tubuh semakin lentur dalam melakukan kegitan.

Bab III: Mengembangkan Gerak Koordinasi Tangan, Kaki, dan Mata
            Tiga permainan dari sepuluh gerakan yang dicontohkan yaitu, melempar dan menangkap bola kecil, menangkap jari, menendang dan memberhentikan bola. Bab ini kegiatannya lebih bervariasi lagi sehingga koordinasi antara tangan, kaki, dan mata semakin bagus. Anak akan semakin tangkas dalam melakukan gerakan.

Bab IV : Mengembangkan Gerakan Keseimbangan
            Contoh-contoh permainan dalam bab ini diantaranya adalah, melangkah di atas balok keseimbangan, melangkah dengan meletakkan buku di atas kepala, mendirikan pena di atas telapak tangan, dan meniru gerakan pesawat. Pada bagian ini keseimbangan tubuh semakin terlatih. Di samping itu, keberanian dan rasa percaya diri anak akan terasah.

Bab V : Mengembangkan Gerakan Kekuatan
            Permainan di bab ini melatih anak untuk meningkatkan keseimbangan koordinasi gerakan dengan tenaga yang dimilikinya. Misalnya pada permainan saling membelakangi badan dan mendorong, tarik tambang dua arah berpasangan, melempar plastik berisi air, memasukkan bola dalam ring basket, meremas clay, menarik tali berbentuk lingkaran, dan lain-lain.

            Setelah mengetahui contoh-contoh gerakan yang menstimulasi kecerdasan kinestetik di atas, lalu bagaimanan kita dapat mengetahui bahwa permainan tersebut aman atau tidak bagi anak? Orang tua atau guru perlu mengetahui tingkat kenyamanan permainan sehingga tidak menimbulkan cedera bagi anak. Untuk itu, di setiap akhir penjelasan cara bermain, dipaparkan pula standar ketertiban dan keselamatan permainan. Dengan demikian, guru dan orang tua tidak perlu ragu mempraktikkannya pada anak.
            Sangat disarankan pada guru dan orang tua memiliki buku ini untuk mengembangkan cara-cara mengajar di kelas atau meningkatkan kemampuan kinestetik putra-putri di rumah. Bila dipraktikkan secara optimal, maka orang tua atau guru sudah melakukan langkah untuk melejitkan potensi diri anak.

Resensi Buku

Identitas buku:
Judul                           : Einstein Never Used Flash Cards
                                      Bagaimana Sesungguhnya Anak-Anak Belajar dan Mengapa Mereka Harus
  Banyak Bermain dan Sedikit Menghafal

Pengarang                   : Kathy Hirsh  Pasek, PhD., Roberta M. Golinkoff,PhD., Diane Eyer, PhD.
Penerbit                       : KAIFA
Tahun Terbitan            : 2005
Tebal Buku                  : 405 halaman
Diresensi oleh             : rikamumtaz
            Bermain bagi seorang anak bagai makanan pokok. Bahkan mungkin seperti bensin bagi kendaraan bermotor. Bagi Kathy Hirsh Pasek, penulis buku ini, pandangan mereka memang kontras dengan pandangan para orang tua yang salah kaprah tentang pendidikan anak dan makna kecerdasan. Tidak sedikit orang tua yang membatasi ruang bermain anaknya. Anak-anak malang itu dibebani dengan banyak pelajaran sejak usia dini serta dipaksa banyak menghafal.
            Buku ini hadir untuk menjawab keresahan banyak orang tua terhadap perkembangan anaknya bila dibandingkan perkembangan anak orang lain. Di sisi lain begitu banyak anak yang menjalani masa kanak-kanaknya dengan tergesa-gesa. Banyak orang tua berlomba-lomba menciptakan anak-anaknya lebih pintar pada usia sangat muda, misalnya dengan mendaftarkan anaknya pada kursus atau les musik, berkuda, berhitung, guru-guru privat, bahasa asing, atau renang. Bahkan muncul industri-industri pendidikan bayi, yang menemukan kelompok konsumen yang cukup bersemangat untuk mengembangkan kecerdasan bayinya. Misalnya muncul CD-CD musik Mozart. Mereka sangat meyakini musik Mozart dapat mengembangkan kecerdasan bayi mereka.
            Munculnya buku ini mencoba menerobos pandangan yang berbeda dengan konsep mereka. Menurut penulis, budaya memuja kesuksesan membuat hilangnya masa kanak-kanak. Anak – anak diberi pakaian orang dewasa. Seakan-akan orang tua menjadi tidak percaya diri kalau tidak mengikuti perkembangan industri ” mendewasakan anak secara dini ”. Anak-anak diprogram sedemikian rupa sehingga mereka tidak memiliki waktu istrihat dan bermain yang memadai.
            Einstein Never Used Flash Cards menentang semua praktik yang keliru dengan membeberkan hasil penelitian terbaru tantang cara yang alamiah membantu anak-anak tumbuh dan belajar. Anak-anak perlu dibiarkan mengembangkan rasa ingin tahunya sendiri. Anak-anak prasekolah yang dibebaskan menikmati masa bermain akan lebih sukses ketimbang anak yang dipaksa menghafal dan digenjot perkembangan intelektualnya.
            Buku yang menantang ini berisi 10 bab mengungkap beberapa cara yang bisa dilakukan para orang tua agar dapat mengembangkan kemampuan anaknya secara alamiah.

Bab I   : Keresahan Orang Tua Masa Kini
             Pada bab ini digambarkan tentang keresahan banyak orang tua menghabiskan uang jutaan untuk membeli permainan pendidikan di mal. Para orang tua berlomba memasukkan anak-anaknya pada club-club belajar. Kalau tidak melakukan itu, mereka seperti orang tua yang tidak mengikuti perkembangan dunia pendidikan. Ditambah lagi dengan booming buku-buku penelitian seperti Bring Out the Genius in Your Child karya Ken Adams dan 365 Ways to a Smarter Presschoolers  karya Marilee Roobin Burton (di Indonesia, buku-buku sejenis banyak juga bermunculan, baik karya penulis barat maupun penulis Indonesia). Fokus orang tua menyiapkan perkembangan kecerdasan anak-anak semakin tidak terkendali. Orang tua mengambil masa anak-anak dan memperlakukan mereka seperti orang dewasa cilik.

Bab II :  Anak Genius: Bagaimana Bayi Dibentuk untuk Belajar?
              Pada bab ini pembaca akan di”tabrakkan” pada penemuan yang menentang teori Efek Mozart Pada Kecerdasan Bayi. Selama ini kita sangat yakin bahwa musik klasik akan meningkatkan kecerdasan anak bahkan bayi yang masih dalam kandungan pun bisa menerima stimulasi efek Mozart ini. Hal ini sangat ditentang oleh penulis buku ini. Mendengarkan komposisi klasik mungkin akan mempengaruhi suasana hati, tapi tidak IQnya. Tidak hanya Mozart yang bisa diperdengarkan pada bayi sebenarnya. Orang tua bisa menyanyikan lagu Nina Bobo, Simon and  Garfunkel, Twinkle-Twinkle Little Star, atau yang lain.

Bab III  :  Memainkan Angka : Bagaimana Anak Belajar Tentang Kuantitas?
              Bagaimana dengan kemampuan berhitung anak? Bab ini mendeskripsikan beberapa langkah anjuran agar anak bisa mengenal bilangan atau berhitung tanpa merasa tertekan. ”Meloncat ke depan” dirasa tidak terlalu penting. Itu akan membuat anak merasa phobia dengan angka. Menurut buku ini, membiarkan anak menemukan sendiri dengan perlahan konsep berhitung saat bermain atau menelaah benda-benda di rumahnya, membuat anak lebih berpengalaman dalam berhitung.Misalnya saat menata piring dan sendok di meja makan, anak akan secara alami menghitung jumlah sendok dan piring yang dibutuhkan untuk makan sesuai dengan jumlah anggota keluarga.

Bab IV  :  Bahasa : Kekuatan Mengoceh
              Pada Bab ini dijabarkan banyak kegiatan sederhana yang bisa dilakukan orang tua di rumah untuk meningkatkan kemampuan berbahasanya, namun dapat memuncukan kekuatan bahasa anak. Saat berinteraksi, atau sambil mengerjakan pekerjaan rumah, dengarkan lebih banyak apa yang anak sampaikan pada orang tua. Tanggapi cerita mereka, beri pertanyaan-pertanyaan tentang topik yang mereka utarakan. Diskusikan tentang yang disukai anak atau tidak disukainya. Tidak perlu menggunakan flash cards kosa kata, atau program komputer.

Bab V : Kemampuan Membaca: Membaca Hal yang Tersirat
              Hal yang tepenting, seperti yang dijelaskan bab ini adalah,  ciptakan suasana yang menyenangkan saat membaca. Tanyakan pada anak di sela kegiatan membaca, mengapa gunung ini terlihat kecil? Menurutmu, bagaimana perasaan Oni saat menemukan kucingnya kembali? Biarkan anak menunjuk-nunjuk gambar atau mengoceh tentang gambar atau halaman-halaman buku.

Bab VI  : Misi Mendefinisikan Kecerdasan
              Banyak orang tua memaksakan putra-putrinya masuk dunia pendidikan prasekolah yang berorientasi keberhasilan. Bahkan orang tua tidak puas dengan sebutan normal atau rata-rata. Bab ini akan membuka wawasan orang tua, bahwa kecerdasan itu tidak semata nilai-nilai atau angka 10 pada rapor. Kecerdasan tidak bisa diukur hanya dari IQ saja. Masuklah ke zona anak, sehingga orang tua benar-benar tahu kecerdasannya.

Bab VII           : Siapakah Saya? Mengembangkan Konsep Diri
              Dalam banyak cara, anak dapat mengembangkan konsep dirinya tanpa banyak bantuan dari orang tua. Bab ini memaparkan lebih jauh bagaimana peran orang tua dalam membentuk konsep diri pada anak. Berbicara pada anak dan undang mereka untuk berbicara bagaimana perasaan mereka. Bagaimana menunjukkan rasa sedih, gembira, atau takut. Bab ini juga mengajarkan orang tua agar menghindari mengacuhkan atau meremehkan perasaan anak.

Bab VIII : Mengenal Diri Anda : Bagaimana AnakAnak Mengembangkan Kecerdasan Sosial
              Kecerdasan sosial dapat dilatih melalui interaksi yang berarti dengan orang lain dalam kehidupan ini. Pada bab 8 ini, dijelaskan bagaimana orang tua mengajarkan anak memperlakukan orang lain, mengapa mereka harus bertingkah demikian, dan bagaimana mereka membangun hubungan pertemanan.

Bab IX  : Bermain : Wadah Pembelajaran
                Bab ini lebih dalam membahas kiat-kiat pendampingan bermain pada anak sehingga bermain itu benar-benar efektif. Meluangkan waktu bermain dengan anak adalah hal yang sangat membantu mengembangkan kepribadian dan kemampuan anak. Intinya, terjunlah bermain bersama anak.

Bab X : Formula Baru : Cara Mengasuh yang Canggih
              Bagian terakhir buku ini memaparkan 4 prinsip yang harus dijalani orang tua agar anaknya bisa berkembang secara alami. Ke 4 prinsip itu menjanjikan efek yang luar biasa pada perkembangan anak. Ke 4 prinsip itu coba diterapkan di rumah sendiri, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Pesan yang penting dalam bab ini adalah, kembalikan masa kanak-kanak kepada anak-anak. Kembalikan keseimbangan kehidupan anak di rumah dan sekolah.

              Buku ini penting dibaca semua orang tua dan guru. Dengan mempelajari buku ini, para orang tua akan bisa menjadikan anak mereka seperti Einstein tanpa perlu terburu-buru.Tanpa perlu meloncat menjauhi dunia anak yang sesungguhnya. Tanpa perlu meninggalkan dunia bermain yang begitu menyenangkan.  

Resensi Buku

Identitas buku:
Judul                           : 100 Permainan Tradisional Indonesia
                                      (Untuk Kreatifitas, Ketangkasan, dan Keakraban)

Pengarang                   : A. Husna M.
Penerbit                       : ANDI
Tahun Terbitan            : 2009
Tebal Buku                  : 218 halaman
Diresensi oleh             : rikamumtaz
            Masih ingatkah dengan permainan gobak sodor, bebentengan, panjat pinang, atau ular-ularan? Balon kempit atau enggrang? Saat ini permainan tradisional seperti itu sudah jarang ditemui atau dimainkan. Walau sebenarnya, permainan tradisonal memuat nilai-nilai edukasi dan sosial yang lebih tinggi daripada game online. Permainan tradisional tidak sekedar menghibur, namun mengolah fisik sekaligus jiwa.
              Buku ini mencoba menyodorkan kembali serta menggugah ingatan kita pada masa-masa kecil di waktu dulu, dimana permainan tradisional ternyata sungguh bermanfaat, seperti ular naga, cang kacang panjang, atau gasingan. Berbeda dengan semakin merambahnya game online yang sempat mengkhawatirkan para orang tua dan guru. Beberapa fakta di surat kabar memaparkan bahwa banyak anak-anak depresi karena kalah bermain dalam game online. Prestasi belajar menjadi merosot. Orang tua dan guru menjadi miris menghadapi kondisi seperti itu. Permainan tradisonal yang terpapar sebanyak lebih dari 100 ini, justru sebaliknya. Keterlibatan fisik, emosi, kerjasama, saling menghargai, berlapang dada, kesabaran, mengatur strategi, semua tertuang di dalamnya. Kalau mau mengangkat kecerdasan majemuk anak, dalam permainan tradisonal semua ada.
              Olah raga, olah pikir, dan olah jiwa tertuang dalam permainan tradisonal. Sudah saatnya kini meninggalkan game online yang kurang bermanfaat. Lewat buku ini para orang tua dan guru dapat menerapkan di rumah atau di sekolah sebagai materi pengayaan. Juga sebagai bahan rujukan pada saat memperingati HUT RI, atau peringatan hari-hari besar nasional lainnya, materi out bond, sarana bermain di sekolah, dan lain-lain. Bahkan permainan tradisional ini juga bisa digunakan oleh orang dewasa dengan tambahan variasi atau modifikasi.
            Buku ini menyajikan tiga bagian permainan tradisional. Permainan di luar rumah diantaranya,  lompat tali, sedang apa, mencari jejak, jengkalan, atau bola lingkaran. Bagian kedua, permainan di dalam rumah, misalnya do mi ka do, bingo, pesan berantai, dan pam semambu. Bagian ketiga, permainan rakyat 17 Agustusan, contohnya kelereng sendok, pensil dalam botol, benang dan jarum, atau tali sepatu.  
Di samping menuturkan cara bermain, buku ini dilengkapi pula dengan skill level untuk mengetahui kegiatan dan tujuan permainan. Misalnya,  pada permainan si lutung, level ketangkasannya ada lima poin, kepemimpinan dua poin, kerja sama dan kreativitas lima poin, wawasan tiga poin, kejujuran dua poin. Jadi untuk permainan jenis ini, ketangkaan, kreativitas, dan kerja sama sangat diasah. Namun bila orang tua atau guru ingin mengasah kepemimpinan anak, maka jenis permainan panjat pinang atau balap bakiak adalah pilihan yang lebih tepat, dengan cara melihat skill level tadi.
Tak perlu diragukan lagi, bahwa permainan tradisional memiliki beragam aspek yang bisa diraih untuk meningkatkan kemampuan anak. Dalam salah satu hadist Rasulullah SAW bersabda, keringat anak kecil menambah kecerdasannya di waktu dewasa (H.R. Tirmidzi).

This is true....."Seorang Pendidik dan seorang Kreator"

            Kreatifitas pada dasarnya merupakan anugrah yang diberikan oleh Allah S.W.T kepada setiap orang. Yakni berupa kemampuan untuk mencipta ( daya cipta) dan berkreasi. Implementasi dari kreatifitas seseorang pun tidaklah sama. Semua bergantung kepada sejauh mana orang tersebut mau dan mampu mewujudkan daya ciptanya menjadi sebuah kreasi ataupun karya.
            Bagi seorang guru, keberhasilan dan kreatifitasnya dalam mengajar ditentukan oleh beberapa faktor, internal maupun eksternal. Faktor internal terdiri dari motivasi, kepercayaan diri, dan kreatifitas guru itu sendiri. Sedangkan faktor eksternal lebih ditekankan pada sarana serta iklim sekolah yang bersangkutan.
            Faktor internal dan eksternal adalah dua hal yang saling bersinggungan. Motivasi dan kepercayaan diri seorang guru dalam berkreasi akan sangat pula ditentukan oleh faktor eksternalnya. Sistem sekolah dan iklim yang kondusif akan membentuk sebuah pembelajaran yang kreatif dan inovatif.
            Dalam tulisan ini akan diulas tentang kreatifitas seorang guru dalam mengajar sehingga menstimulasi siswa untuk menghasilkan sebuah produk yang kreatif. Dalam hal ini pula, seorang guru misalnya, mampu mengoptimalkan kreatifitas siswanya yang tertuang dalam produk hasil karya siswa, walaupun bermodalkan sarana dan prasarana yang sederhana. Artinya, seorang guru harus mampu mengoptimalkan sarana seadanya namun mampu pula mencipkan sebuah karya yang spektakuler yang berhasil dibuat oleh siswanya.
           
Banyak hal yang dapat dilakukan oleh guru agar siswanya menjadi kreator ulung. Pada pelajaran ekstra Teknologi Tepat Guna sederhana, justru siswa bisa kita bekali dengan sarana sederhana dan bahkan dari barang-barang bekas untuk menjadikan sebuah teknologi canggih, yaitu pembuatan Robot Soccer.
           
Pada pembelajaran ini, siswa mengenal fungsi dinamo. Selain konsep yang diterima siswa, mereka diajak untuk memanfaatkan barang-barang mainannya, mobil-mobilan atau bola plastik misalnya. Mainan mereka yang sudah tidak dipakai lagi masih bisa dimanfaatkan  sehingga menghasilkan sebuah kreasi yang luar biasa. Dalam hal ini guru membekali siswa untuk tidak konsumtif . Bahwa mainan robot pun bisa mereka ciptakan sendiri.  

Semua bidang studi atau pelajaran dapat membuat siswa kreatif. Bila guru terus berusaha maksimal mencari hal-hal baru yang inovatif untuk siswa, maka hal ini akan menjadi seperti virus yang menular pada siswa. Siswa pun akan tertular oleh virus kreatifitas kita sebagai guru. Tidak ada kata menyerah untuk menghasilkan sebuah pembelajaran yang menyenangkan.

            Pembelajaran yang kreatif cukup ampuh untuk memotivasi siswa dalam berkarya dan meningkatkan prestasi mereka, juga di pelajaran-pelajaran lainnya. Yang paling menarik adalah siswa mendapatkan pengalaman yang menyenangkan, dan kecakapan hidup yang akan mereka gunakan sepanjang hidup mereka.
           
Kata-kata motivasi terus dikumandangkan oleh guru setiap hari agar mereka tahu bahwa mereka adalah siswa yang cerdas dan kreatif. Bisa lewat mading kelas, di pintu-pintu kelas, atau di tempat-tempat lain dimana mereka bisa dengan mudah membacanya.

            Seperti disebutkan di atas bahwa produk kreatif tidak sebatas pada pelajaran tertentu saja, dapat dihasilkan pula dari pelajaran yang lain. Ini semakin menguatkan sebuah asumsi bahwa pembelajaran kreatif berasal dari guru yang kreatif pula. Dan itu menular ! Contoh pelajaran IPS pada materi menjelaskan lingkungan rumah serta letak rumah. Lagi-lagi guru dihadapkan pada bentuk implementasi yang sebenarnya dari materi tersebut. Bagaimana bentuk kreatifitas pembelajarannya? Contoh, guru selain menjelaskan konsep lingkungan rumah, siswa juga dapat distimulasi untuk membuat maket rumah sederhana dari bahan karton bekas. Siswa betul-betul memvisualisasikan lingkungannya atu rumahnya dalam bentuk mini. Dipastikan mereka asyik dalam menciptakan produknya sendiri.

Stimulasi-stimulasi seperti di atas berakibat besar untuk melejitkan potensi siswa. Pemanfaatan media sederhana di sekitar mereka seperti tutup botol, koran bekas, majalah bekas, kardus, kulit kacang, kain perca, dan lain-lain, adalah sarana untuk melejitkan kratifitas siswa. Guru kreatif akan menyulap media sederhana tersebut menjadi bagian dari sarana belajar dan akan memberikan pengalaman yang hidup yang berarti bagi siswa. Namun, yang perlu digaris bawahi pula adalah, agar seorang siswa  melejit seluruh kecerdasannya, dia harus bebas dari segala ancaman, tekanan, dan ketakutan. Kegiatan belajar-mengajar yang diselenggarakan harus memunculkan semangat dan gairah yang luar biasa.

            Dari beberapa contoh di atas, maka dapat dikatakan bahwa kreatifitas serta aktivitas mengajar guru, seharusnya mampu mengispirasi siswa untuk membuat karya kreatif, berprestasi lebih optimal, dan mampu menjadikan mereka anak-anak yang tak henti-hentinya untuk terus berpikir kreatif. Pembelajaran yang berhasil adalah pembelajaran yang terealisasi dalam kehidupan sehari-hari siswa itu dengan baik. Dan yang lebih utama adalah pembelajaran tersebut mampu membekali mereka dengan life skill yang akan berguna bagi kehidupan mereka di masa yang akan datang. Dengan kata lain, guru telah menyemai benih, menyiram, dan memupuk sebuah bibit unggul dengan baik. Siswa akan menjadi bibit unggul yang kelak akan menjadi manusia berguna dan bermanfaat bagi orang lain.
           












Awali dan Sisipi dengan Motorik

            Pada dasarnya setiap anak suka bergerak. Melompat, berlari, melempar dan menangkap bola, dan beberapa kegiatan yang membuatnya beranjak dari tempat duduk. Namun bila kegiatan bergerak atau motorik tersebut terarah atau diarahkan, menjadi gerakan yang teratur dan bermakna, akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Menurut para ahli neurology, kegiatan motorik yang terarah dapat meningkatkan potensi otak.  
            Perkembangan otak dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.  Faktor internal dipengaruhi oleh genetik (keturunan) yang berkisar antara 30-60%. Sementara selebihnya, perkembangan otak dipengaruhi opleh faktor eksternal. Diantaranya, gizi yang seimbang, cinta, interaksi, seni, dan gerakan ( motorik), ( Sidiarto, 2007).
            Faktor penunjang yang terakhir, yaitu kegiatan motorik, seringkali mendapatkan porsi yang tidak seimbang dengan kegiatan kognitif  lain di sekolah. Bisa jadi kegiatan motorik dianggap kurang penting, membutuhkan waktu lebih lama, bukan materi esensi, hanya dapat dilakukan pada saat pelajaran olah raga, dan sebagainya. Kiranya, pandangan seperti itu perlu dibuang jauh-jauh. Sudah saatnya, kegiatan motorik menjadi bagian aktifitas belajar di sekolah.
            Aktivitas motorik bukanlah sesuatu yang memberatkan dan membutuhkan waktu lama untuk melakukannya. Pada dasarnya, kalau kemauan itu ada pada setiap guru, maka hal itu akan terasa mudah. Lantas, kapan guru dapat melakukan kegiatan motorik bersama siswa? Ada beberapa alternatif waktu, misalnya, pertama, di pagi hari sebelum pelajaran dimulai, ajak para siswa untuk sejenak melakukan senam pagi sekitar sepuluh sampai lima belas menit. Dengan diiringi musik yang menyenangkan, siswa akan merasa enjoy. Tentunya badan mereka akan berkeringat, namun kesegaran akan muncul karena otot-otot badan bergerak secara terarah dan terpola. Agar tidak bosan, brain gim yang diciptakan Paul Dennison, dapat juga dilakukan secara bergantian. Brain gim ini adalah hasil dari penelitiannya dalam mengatasi kesulitan membaca dan menulis pada anak, serta meningkatkan potensi pada anak yang mengalami kesulitan belajar.
            Kedua, kegiatan motorik dapat juga dilakukan pada saat pergantian pelajaran. Misalnya, pelajaran IPA telah usai, pelajaran berikutnya yaitu IPS. Sebelum pelajaran IPS dimulai, ajaklah siswa untuk melakukan gerakan seperti, berdiri dengan satu kaki dengan mata terbuka. Lalu berdiri dengan satu kaki dengan mata tertutup. Kegiatan lain yaitu, berjalan lurus pada satu lintasan yang lebarnya sekitar telapak kaki orang dewasa. Panjang lintasan lima sampai tujuh meter. Siswa diharapkan tidak melihat pada lintasan, pandangan lurus ke depan, serta tidak keluar dari jalur itu. Tentunya tak lupa guru memberikan kata-kata motivasi agar siwa bersemangat melakukannya.
            Agar ada penyegaran, sebelum pelajaran berikutnya dimulai, siswa dapat pula diajak guru keluar kelas sebentar untuk melintasi balok keseimbangan yang telah disiapkan sebelumnya. Media lain seperti ban-ban mobil bekas yang ditata berjajar, dapat juga dijadikan sebagai ajang melatih kelenturan motorik siswa. Siswa diminta untuk melompati atau berjalan diantara lingkaran-lingkaran ban-ban bekas tersebut. Sambil diiringan nyanyian anak, tentunya kegiatan ini akan semakin menyenangkan.
            Ragam kegiatan motorik cukup banyak dan bisa diadaptasi dari buku-buku brain gym yang telah banyak beredar. Yang perlu dilakukan oleh para pendidik selanjutnya adalah memotivasi, membujuk, mengulang-ngulang, dan konsistensi terhadap kegiatan ini. Bila hal ini telah dilakukan, kegiatan motorik dapat menolong siswa mencapai prestasi akademikyang optimal.  
            Ketiga, mengaplikasikan kegiatan motorik kasar atau motorik halus dalam proses pembelajaran tentulah hal yang sangat bermanfaat dan menyenangkan siswa. Sebagai contoh dalam pelajaran IPA, saat siswa mengenal tempat tinggal hewan atau mengenal jenis tumbuhan, guru kreatif akan menstimulasi panca indera siswa dengan cara melibatkan motorik halusnya. Misalnya siswa diminta untuk membuat ikan beraneka rupa dengan media plastisin, kertas origami, atau bahan-bahan lain yang mudah didapatkan oleh siswa. Betapa senangnya siswa bila guru tidak melulu memverbalkan materi pelajarannya. Di sini pula akan tercipta komunikasi antar siswa saat mereka bersama-sama membuat karya yang diinginkan. Artinya, dalam pembelajaran tersebut, aspek sosial juga disentuh oleh guru. Betapa kompleksnya pengalaman yang diterima siswa, selain sebuah konsep materi pelajaran, juga otak kanan mereka mendapatkan makanan yang bergizi lewat penciptaan karya-karya yang luar biasa.
                        Menstimulasi motorik halus lewat indera peraba dapat juga dilakukan agar siswa medapatkan kekayaan pengalaman belajar. Pada pelajaran menulis di kelas awal, guru dapat meminta siswa untuk menelusuri dengan jari-jarinya, huruf-huruf yang tercetak tebal pada kertas, kardus bekas, atau pada steorofom,  sehingga jari-jari lembut siswa benar-benar dapat merasakan sentuhan pada huruf tersebut.
            Menggunakan media yang berbeda pun dapat dilakukan agar kegiatan lebih variatif, misalnya pasir atau tepung. Sediakan pasir yang bersih atau tepung di sebuah wadah. Biarkan anak membuat huruf, angka, atau bentuk-bentuk geometri pada pasir atau tepung tersebut menggunakan jari-jari  mereka.   Aktivitas gerak, seperti latihan di atas, yang dipadu dengan sensori indera akan  mengubah sensasi (rasa) menjadi persepsi (pemahaman atau daya memahami).
            Untuk membimbing anak agar lebih optimal lagi dalam proses pembelajaran, tentunya perlu dilakukan juga beberapa hal, diantaranya:
a). kegiatan refleksi dan evaluasi terhadap pembelajaran atau latihan-latihan. Dengan demikian guru akan segera tahu perkembangan siswa dan segera mengambil langkah lanjutan untuk mengoptimalkan perkembangannya.
b). kegiatan yang bervariasi sehingga anak tidak mudah bosan melakukan kegiatan motorik ini.
c). kerjasama antar sekolah dengan orang tua dalam hal perkembangan siswa perlu sehingga anak mendapatkan curah bimbingan yang lebih baik.

Kecerdasan Multidimensi

Anakmu bukan milikmu
Mereka adalah putra-putri Sang Hidup
Yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka lahir lewat engkau, tetapi bukan milikmu
Berilah mereka kasih sayang
Namun jangan berikan pemikiranmu
Karena pada mereka ada alam pikiran sendiri
Patut kau berikan rumah bagi raganya
Namun tidak bagi jiwanya
Sebab mereka adalah penghuni rumah masa depan
Yang tiada dapat kau kunjungi, sekalipun dalam mimpi
Engkau boleh berusaha menyerupai engkau
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur
Atau pun tenggelam ke masa lampau
Engkau busur tempat anakmu
Anak panah hidup melesat pergi

(Kahlil Gibran)


Siapakah anak kita? Apa bakat mereka? Berapa nilai matematika dan IPA mereka? Mengapa tidak ditanyakan pada mereka: hari ini telah mencetak gol berapa pada saat bermain sepak bola? Adakah teman yang kamu bantu sehingga permasalahannya selesai? Sudahkan kamu mengendalikan marahmu saat ada temanmu yang mengganggu? Adakah puisi atau gambar yang kamu buat hari ini? Sudah berapa tanaman yang kamu pelihara sejak kelas satu?

Betapa luas dan banyak pertanyaan yang bisa diajukan pada anak, daripada sekadar bertanya berapa nilai matematika atau IPA yang kamu raih? Jauh sebelum Howard Garner menelurkan kecerdasan majemuk (multiple intelligenses), Rasulullah SAW telah mengingatkan para orang tua juga guru untuk membimbing anak dengan memerhatikan bakatnya. Karena anak begitu unik, dimana satu sama lainnya berbeda dalam minat dan kecerdasannya.

Perhatikan hadist yang sudah sering dibahas di berbagai forum diskusi atau majelis taklim ini,
"Kewajiban orang tua kepada anaknya adalah memberikan nama yang baik, mendidik (perilaku yang baik), mengajarkan  berenang, memanah, berkuda, memberi makan dengan makanan yang baik serta menikahkan apabila telah dewasa".  
( H.R. Hakim ).

Kajilah lebih dalam isi hadist tersebut. Rasulullah SAW sebagai teladan kita, ternyata telah mengajarkan kita sebagai orang tua dan guru tentang kecerdasan majemuk. Bahkan telah lebih 14 abad yang lalu, Rasulullah SAW mengingatkan setiap insan untuk mendidik anak dengan cara-cara manusiawi.

 Kewajiban orang tua kepada anaknya adalah memberikan nama yang baik, mendidik (perilaku yang baik),…….

Orang tua atau guru pertama-tama diminta untuk menstimulasi kecerdasan diri (intrapersonal)  terlebih dahulu.  Memberinya nama-nama yang baik sebagai identitas diri. Memberikan nama yang baik adalah awal seorang manusia untuk mulai mengenal dan memahami dirinya sendiri. Melalui pengenalan diri ini, anak akan mampu mengetahui kekuatan dan keterbatasan yang ada pada dirinya. 
Seorang anak yang cerdas diri menyadari dan mengerti arti emosi diri sendiri dan emosi orang lain, khususnya dalam situasi konflik. Oleh karena itu, dalam kurikulum sekolah pun, tema Aku biasanya menjadi tema pertama yang disuguhkan di kelas.

mengajarkan  berenang …..

Muslim yang kuat lebih baik dari muslim yang lemah.  Hadist ini seringkali dikutip untuk mengingatkan akan pentingnya menjaga jasmani kita selain sisi ruhani. Hal ini sejalan dengan kewajiban orang tua untuk mengajarkan anaknya berenang.   
Saat berenang seluruh anggota psikomotor difungsikan secara optimal.  Mulai dari kepala sampai kaki bekerja bersama.  Karenanya berenang dapat dijadikan simbol latihan fisik yang dimaksudkan untuk melatih kecerdasan tubuh/kinestetis. Kecerdasan ini meliputi kemampuan fisik seperti koordinasi, keseimbangan, kekuatan, kelenturan, kecepatan dan kemampuan menerima rangsangan atau merespon sentuhan. Anak-anak seperti ini menunjukkan minat pada karier sebagai atlet, dokter bedah, atau senang bermain drama.