(rikamumtaz)
Pernahkah kita memperhatikan dengan cermat gerakan wudhu anak-anak? Sudah tertib dan rapikah gerakannya? Sudahkah kita memperhatikan dengan seksama gerakan sholat anak-anak? Tertib dan rapikah gerakannya? Perhatikan pula akhlak anak-anak, sudah menuju akhlak islamikah mereka? Sebagai orang tua dan guru, sudahkah Anda membimbing anak-anak atau siswa-siswa agar melakukan wudhu dan sholat dengan benar? Beragam pertanyaan bisa saja hadir di benak para orang tua berkaitan dengan perilaku wudhu dan sholat anak-anak sehari-hari. Berwudhu bukan saja membasuh hingga basah bagian-bagian dari tubuh. Tapi ada adab atau perilaku dalam kegiatan bersuci ini. Begitu pula dengan sholat. Perilaku dan gerakan-gerakan sholat juga mencerminkan kepatuhan pada Allah SWT, melatih kesabaran, menghadirkan ketenangan bagi jiwa, dan berguna bagi kesehatan bila dilakukan dengan tepat.
Wudhu adalah sebuah sunnah (petunjuk) yang berhukum wajib, ketika seseorang mau mendirikan sholat. Berwudhu dengan benar ini perlu mendapatkan perhatian penting bagi orang tua dan guru. Berwudhu bukan sekadar membasuh dan mengusap anggota badan, tapi berwudhu mengandung hikmah yang amat dalam. Diantara hikmah wudhu adalah seseorang dibimbing agar ia memulai aktifitas ibadah dan kehidupannya dengan kesucian dan keindahan. Sebab wudhu itu sebenarnya bermakna keindahan, dan kesucian.
Membangun kepribadian anak dengan mengajarkan ketertiban berwudunya adalah salah satu alternatif yang dapat dilakukan oleh para orang tua dan pendidik. Mengambil hikmah dari setiap gerakan wudhu akan memberikan pemahaman yang sangat berarti bagi siswa mengapa mereka harus melakukan itu dengan baik. Bila wudhu dilakukan dengan benar dan ikhlas karena Allah semata, tidak hanya air yang membasuh tangan dan wajah, namun terbasuh pula dosa-dosa yang telah dilakukan. Membasuh sebagian kepala akan memberikan kesegaran fisik yaitu memberikan kesegaran bagi kepala itu sendiri. Namun di kepala terdapat akal manusia. Akal yang menjadikan manusia dapat membedakan baik dan buruk, mana yang bermanfaat, mana pula yang tidak. Nilai-nilai yang mengiringi kegiatan berwudhu inilah yang akan membangun kepribadian anak. Tidak sekadar membasuh fisik, namun lebih bermakna lagi yaitu membasuh hati.
Betapa pentingnya menjaga ketertiban berwudhu juga sholat, hingga Rasulullah SAW pernah mengingatkan langsung seorang pria tentang sholat yang baru saja dilakukannya. Ketika itu Rasulullah SAW berada di dalam Masjid Nabawi, Madinah. Selepas menunaikan shalat, beliau menghadap para sahabat untuk bersilaturahmi dan memberikan tausiyah. Tiba-tiba, masuklah seorang pria ke dalam masjid. Dia melaksanakan shalat dengan cepat. Setelah selesai, ia segera menghadap Rasulullah SAW dan mengucapkan salam. Rasul berkata pada pria itu, "Sahabatku, engkau tadi belum shalat!" Betapa kagetnya orang itu mendengar perkataan Rasulullah SAW. Ia pun kembali ke tempat shalat dan mengulangi shalatnya. Seperti sebelumnya, ia pun melaksanakan shalat dengan sangat cepat. Rasulullah SAW tersenyum melihat cara lelaki itu shalat. Setelah melaksanakan shalat untuk kedua kalinya, ia kembali mendatangi Rasulullah SAW. Sambil mendekat, Rasulullah SAW berkata pada pria itu, "Sahabatku, tolong ulangi lagi shalatmu! Aku lihat, engkau tadi belum shalat dengan benar." Lagi-lagi lelaki itu kaget. Ia merasa telah melaksanakan shalat sesuai aturan. Meskipun demikian, dengan senang hati ia menuruti perintah Rasulullah SAW. Namun ia masih melakukan shalat dengan cara dan gaya shalat yang sama.
Masih dengan tersenyum dan penuh kesabaran, Rasulullah SAW meminta lelaki itu mengulangi lagi shalatnya. Lelaki itu menjadi bingung. Ia berkata, "Wahai Rasulullah, demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa melaksanakan shalat dengan lebih baik lagi. Rasulullah, ajarilah aku!
“Sahabatku,"kata Rasulullah SAW, "jika engkau berdiri untuk melaksanakan shalat, maka bertakbirlah, kemudian bacalah Al-Fatihah dan surat dalam Alquran yang engkau pandang paling mudah. Lalu, rukuklah dengan tenang (thuma'ninah), lalu bangunlah hingga engkau berdiri tegak. Selepas itu, sujudlah dengan tenang, kemudian bangunlah hingga engkau duduk dengan tenang. Lakukanlah seperti itu pada setiap shalatmu."
(Kisah dari Mahmud bin Rabi' Al Anshari dan diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahih).
Apa yang bisa dipetik dari kisah ini? Ini adalah gambaran bahwa shalat tidak cukup benar gerakannya. juga harus dilakukan dengan tumaninah, tenang, tidak terkesan terburu-buru, dan khusyuk. Bila para orang tua dan guru mengajarkan tumaninah dalam sholat misalnya, sesungguhnya mereka telah mengajarkan sikap sabar pada anak-anak. Saat anak dilatih bersujud dengan gerakan yang benar sesungguhnya itu adalah sikap ketaatan yang mutlak pada Allah. Tiada lain yang disembah selain Allah SWT. Semua yang mereka (anak-anak) kerjakan baik di sekolah maupun di rumah adalah karena Allah semata. Bukan karena ingin mendapatkan nilai atau pujian dari guru. Bukan juga karena ingin mendapatkan rangking atau peringkat terbaik. Itu sesungguhnya yang perlu disampaikan pada siswa bahwa sholat tidak cukup gugur kewajiban saja, atau karena diminta oleh guru dan orang tua, namun di balik itu semua, melakukan sholat dengan benar dan tertib akan membangun kepribadian anak-anak.
Berwudhu dan sholat dengan benar adalah anugrah terindah dari Allah SWT untuk membangun kepribadian anak-anak. Mudah dilakukan namun membutuhkan kesabaran juga keikhlasan dari para orang tua dan guru. (Rika)