Senin, 06 Juni 2011

Bangun Karakter, Iringi dengan Ketertiban Wudhu dan Sholat Anak

(rikamumtaz)
Pernahkah kita memperhatikan dengan cermat gerakan wudhu anak-anak? Sudah tertib dan rapikah gerakannya? Sudahkah kita memperhatikan dengan seksama gerakan sholat anak-anak? Tertib dan rapikah gerakannya? Perhatikan pula akhlak anak-anak, sudah menuju akhlak islamikah mereka? Sebagai orang tua dan guru, sudahkah Anda membimbing anak-anak atau siswa-siswa agar melakukan wudhu dan sholat dengan benar? Beragam pertanyaan bisa saja hadir di benak para orang tua berkaitan dengan perilaku wudhu dan sholat anak-anak sehari-hari. Berwudhu bukan saja membasuh hingga basah bagian-bagian dari tubuh. Tapi ada adab atau perilaku dalam kegiatan bersuci ini. Begitu pula dengan sholat. Perilaku dan gerakan-gerakan sholat juga mencerminkan kepatuhan pada Allah SWT, melatih kesabaran, menghadirkan ketenangan bagi jiwa, dan berguna bagi kesehatan bila dilakukan dengan tepat.
Wudhu adalah sebuah sunnah (petunjuk) yang berhukum wajib, ketika seseorang mau mendirikan sholat. Berwudhu dengan benar ini perlu mendapatkan perhatian penting bagi orang tua dan guru. Berwudhu bukan sekadar membasuh dan mengusap anggota badan, tapi berwudhu  mengandung hikmah yang amat dalam. Diantara hikmah wudhu adalah seseorang dibimbing agar ia memulai aktifitas ibadah dan kehidupannya dengan kesucian dan keindahan. Sebab wudhu itu sebenarnya bermakna keindahan, dan kesucian.
Membangun kepribadian anak dengan mengajarkan ketertiban berwudunya adalah salah satu alternatif yang dapat dilakukan oleh para orang tua dan pendidik. Mengambil hikmah dari setiap gerakan wudhu akan memberikan pemahaman yang sangat berarti bagi siswa mengapa mereka harus melakukan itu dengan baik. Bila wudhu dilakukan dengan benar dan ikhlas karena Allah semata, tidak hanya air yang membasuh tangan dan wajah, namun terbasuh pula dosa-dosa yang telah dilakukan. Membasuh sebagian kepala akan memberikan kesegaran fisik yaitu memberikan kesegaran bagi kepala itu sendiri. Namun di kepala terdapat akal manusia. Akal yang menjadikan manusia dapat membedakan baik dan buruk, mana yang bermanfaat, mana pula yang tidak. Nilai-nilai yang mengiringi kegiatan berwudhu inilah yang akan membangun kepribadian anak. Tidak sekadar membasuh fisik, namun lebih bermakna lagi yaitu membasuh hati.
      Betapa pentingnya menjaga ketertiban berwudhu juga sholat, hingga Rasulullah SAW pernah mengingatkan langsung seorang pria tentang sholat yang baru saja dilakukannya. Ketika itu Rasulullah SAW berada di dalam Masjid Nabawi, Madinah. Selepas menunaikan shalat, beliau menghadap para sahabat untuk bersilaturahmi dan memberikan tausiyah. Tiba-tiba, masuklah seorang pria ke dalam masjid. Dia melaksanakan shalat dengan cepat. Setelah selesai, ia segera menghadap Rasulullah SAW dan mengucapkan salam. Rasul berkata pada pria itu, "Sahabatku, engkau tadi belum shalat!" Betapa kagetnya orang itu mendengar perkataan Rasulullah SAW. Ia pun kembali ke tempat shalat dan mengulangi shalatnya. Seperti sebelumnya, ia pun melaksanakan shalat dengan sangat cepat. Rasulullah SAW tersenyum melihat cara lelaki itu shalat. Setelah melaksanakan shalat untuk kedua kalinya, ia kembali mendatangi Rasulullah SAW. Sambil mendekat, Rasulullah SAW berkata pada pria itu, "Sahabatku, tolong ulangi lagi shalatmu! Aku lihat, engkau tadi belum shalat dengan benar." Lagi-lagi lelaki itu kaget. Ia merasa telah melaksanakan shalat sesuai aturan. Meskipun demikian, dengan senang hati ia menuruti perintah Rasulullah SAW. Namun ia masih melakukan shalat dengan cara dan gaya shalat yang sama.  
Masih dengan tersenyum dan penuh kesabaran, Rasulullah SAW meminta lelaki itu mengulangi lagi shalatnya. Lelaki itu menjadi bingung. Ia berkata, "Wahai Rasulullah, demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa melaksanakan shalat dengan lebih baik lagi. Rasulullah, ajarilah aku!  
“Sahabatku,"kata Rasulullah SAW, "jika engkau berdiri untuk melaksanakan shalat, maka bertakbirlah, kemudian bacalah Al-Fatihah dan surat dalam Alquran yang engkau pandang paling mudah. Lalu, rukuklah dengan tenang (thuma'ninah), lalu bangunlah hingga engkau berdiri tegak. Selepas itu, sujudlah dengan tenang, kemudian bangunlah hingga engkau duduk dengan tenang. Lakukanlah seperti itu pada setiap shalatmu."
(Kisah dari Mahmud bin Rabi' Al Anshari dan diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahih).
 Apa yang bisa dipetik dari kisah ini? Ini adalah gambaran bahwa shalat tidak cukup benar gerakannya. juga harus dilakukan dengan tumaninah, tenang, tidak terkesan terburu-buru, dan khusyuk. Bila para orang tua dan guru mengajarkan tumaninah dalam sholat misalnya, sesungguhnya mereka telah mengajarkan sikap sabar pada anak-anak. Saat anak dilatih bersujud dengan gerakan yang benar sesungguhnya itu adalah sikap ketaatan yang mutlak pada Allah. Tiada lain yang disembah selain Allah SWT. Semua yang mereka (anak-anak) kerjakan baik di sekolah maupun di rumah adalah karena Allah semata. Bukan karena ingin mendapatkan nilai atau pujian dari guru. Bukan juga karena ingin mendapatkan rangking atau peringkat terbaik. Itu sesungguhnya yang perlu disampaikan pada siswa bahwa sholat tidak cukup gugur kewajiban saja, atau karena diminta oleh guru dan orang tua, namun di balik itu semua, melakukan sholat dengan benar dan tertib akan membangun kepribadian anak-anak.   
Berwudhu dan sholat dengan benar adalah anugrah terindah dari Allah SWT untuk membangun kepribadian anak-anak. Mudah dilakukan namun membutuhkan kesabaran juga keikhlasan dari para orang tua dan guru. (Rika)

Jumat, 03 Juni 2011

Bukan Sekolah Tong Kosong

“Jika Anda berencana untuk satu tahun, tanamlah biji-bijian. Jika Anda berencana sepuluh tahun, tanamlah pepohonan. Jika Anda berencana untuk seribu tahun, tanamlah manusia.”
( pepatah Cina )

Pandangan Mutu

            Bangsa kita sangat menaruh perhatian sangat besar  pada dunia pendidikan. Dari dunia pendidikan inilah diharapkan masa depan bangsa ini dibangun dengan landasan yang kokoh dan kuat. Landasan yang bertumpu pada moral agama, pengoptimalan potensi anak, profesionalitas sekolah, jaminan kualitas sekolah. Hal ini mampu menelurkan manusia – manusia luar biasa yang akan dapat mengubah bangsa ini menjadi lebih maju dan bersaing dengan bangsa lain ( Sulhan ,2006 )
            Setiap orang tua,  bahkan semua orang tua, masyarakat, kita sebut saja kostumer, tidak perlu resah atau ragu bila sekolah-sekolah yang dipilih oleh mereka untuk pendidikan anaknya adalah sekolah yang betul-betul dijamin kemutuannya atau kualitasnya. Bahwa program-program yang ditawarkan lewat brosur-brosur, promosi-promosi, bukanlah  kamuflase semata untuk menarik perhatian orang tua atau kostumer. Hal ini membuat mutu menjadi satu-satunya hal yang sangat penting dalam dunia pendidikan.
            Harus diakui, sebagian sistem pendidikan memang bermasalah mulai dari SD, SLTP, SMU. Lulusan SMU atau perguruan tinggi tidak siap memenuhi kebutuhan masyarakat. Mereka tidak dicetak untuk menjadi manusia produktif. Akhirnya, menjadi beban masyarakat. Para siswa itu adalah produk sistem pendidikan yang tidak terfokus pada mutu.
            DR. M.Juran dalam Arcaro ( 2006:9 ) berpandangan tentang mutu :
            · meraih mutu merupakan proses yang tidak kenal lelah
            · perbaikan mutu merupakan proses yang berkesinambungan, bukan program sekali
            · mutu memerlukan kepemimpinan unggul
            · pelatihan merupakan prasyarat mutu
            · dipastikan setiap orang di sekolah mendapatkan pelatihan

Sekolah Bermutu

            Sumber daya guru, dewan sekolah, administrator, staf, siswa, dan komunitas, berdedikasi bersama terhadap mutu. Bisa diawali dengan mengembangkan visi dan misi yang disepakati dan dipahami maknanya oleh semua yang terkait. Visi mutu difokuskan  pada pemenuhan kebutuhan kostumer , akan mendorong keterlibatan total komunitas sekitar dalam program-program sekolah. Mengembangkan sistem pengukuran atau nilai, akan menjadi nilai tambah. Perbaikan berkelanjutan dengan selalu berupaya keras, membuat produk pendidikan menjadi lebih baik.
            Fokus pada kostumer. Orang tua , yang di dalamnya termasuk anak, adalah komponen yang tidak bisa kita abaikan. Mereka adalah bagian yang akan memetik manfaat dari sekolah mutu. Layanan yang berkualitas dan profesional adalah wujud yang dibutuhkan oleh mereka. Sekolah bertanggung jawab pula bekerja sama dengan orang tua untuk mengoptimalkan potensi siswa agar mendapatkan manfaat dari proses belajar di sekolah. Program-program dirancang untuk melibatkan pula orang tua dalam memahami bagaimana perannya dalam memperbaiki pendidikan anak dengan berpartisipasi dalam proses pendidikan tersebut.
            Terlibat total. Setiap infrastruktur terlibat penuh dalam membangun dan mempertahankan sekolah bermutu.. Kualitas sekolah tidak hanya ada di tangan para guru, namun yang lebih utama adalah tanggung jawab semua pihak terkait. Semua orang berkontribusi dalam membangun mutu. Kegiatan atau program-program sekolah yang demikian indah tidak akan bermakna dan berhasil bila staff, administrator, komite atau dewan sekolah, orang tua, komunitas, pemerintahan wilayah, tidak bekerja sama dengan baik.
            Penilaian / pengukuran / evaluasi. Keberhasilan sekolah tidak dapat diukur semata-mata dari hasil ujian siswa semata. Bila hasil ujian akhir siswa baik, makan dapat dipastikan sekolah itu baik. Itu pandangan tradisional atau masa lalu. Perangkat sekolah dan yang terkait di dalamnya, perlu keahlian dalam mengolah data-data, menganalisis proses dan program sekolah, sehingga mutu sekolah dapat diukur. Jadi kualitas sekolah tidak melulu dilihat dari nilai siswa, juga aspek-aspek lain seperti jaminan kualitas ruhani siswa, pembangunan karakter siswa,             kurikulum, seberapa besar kontribusi pihak lain dalam pengembangan sekolah, serta hal lain yang semuanya perlu diukur dan dievaluasi.
            Komitmen dan konsistensi. Pihak sekolah dan dewan / komite diharuskan mempunyai komitmen tinggi dalam perbaikan mutu. Bila tidak, proses menuju mutu akan gagal. Manajemen dan setiap orang perlu memiliki komitmen untuk mendukung terus proses mutu. Komitmen harus diiringi dengan konsistensi. Kita hanya bisa konsisten dan bertahan di puncak bila memiliki energi jiwa yang dahsyat ( Matta,  2006 ). Energi yang luar biasa itu akan mampu memikul beban dan tanggung jawab sebesar apa pun. Pihak sekolah  tidak perlu ragu untuk tetap komitmen dan konsisten terhadap proses mutu.
            Perbaikan berkesinambungan. Para profesional pendidikan harus memiliki perasaan tidak puas terhadap program-program yang sudah ada. Hal ini akan mendorong mereka untuk terus melakukan perbaikan-perbaikan pada proses menuju kesempurnaan. Pihak-pihak terkait dalam proses mutu ini  harus terus-menerus memperbaiki proses yang telah dikembangkan dan membuat perbaikan yang sekiranya diperlukan.
Kesempurnaan itu relatif, maka satu-satunya yang dapat dilakukan adalah mendekati ukuran kesempurnaan terus-menerus. Juga dalam menjaga mutu sekolah hingga dapat menjadi sekolah yang unggul. Yang tak kalah pentingnya adalah pihak sekolah, orang tua, maupun dewan / komite, jangan berhenti untuk terus melakukan perbaikan mutu, bila ternyata jaminan mutu itu telah diraih. Karena orang-orang yang puas dengan prestasi atau kesuksesannya, biasanya akan berhenti berprestasi setelah itu. Hal ini juga akan mematikaan kreatifitas dan produktifitas para profesional pendidikan untuk meraih sukses berikutnya.
           
Bukan Tong Kosong Semata
Sekolah unggul atau bermutu merupakan produk dari orang-orang yang mau bekerja keras. Komitmen tinggi dan istiqomah terhadap komitmen itu merupakan syarat mutlak untuk produk unggul. Dedikasi tinggi terhadap kepemimpinan, keikhlasan dalam menjalankan amanah, akan membuahkan hasil yang tidak perlu diragukan lagi.
            Transformasi mutu sekolah hendaknya dilakukan secara alami, tanpa perlu dipaksakan. Kalau ada pihak-pihak yang merasa terpaksa, bisa dikatakan pihak tersebut diragukan kualitasnya. Orang yang berkualitas atau profesional pendidikan yang berkualitas, tidak akan merasa dipaksa untuk melakukan sesuatu ke arah perbaikan.
            Menelurkan siswa yang unggul atau produk sekolah bermutu adalah sebuah usaha yang membutuhkan kerjasama dari semua pihak. Bila hal ini dilakukan oleh satu-dua pihak saja , maka akan seperti tong yang berbunyi nyaring karena isinya kosong. Hal itu akan memekakkan telinga dan sia-sia. Orang tua, semua SDM sekolah, komunitas, masyarakat, dewan / komite , perlu menyatukan visi misi bersama. Keyakinan dan nilai-nilai, visi misi, objektifitas, norma-norma, adalah pondasi penting yang mendasari bangunan sekolah bermutu. Ini adalah kekuatan dalam transformasi mutu tersebut.
            Menuju mutu, bukannya tanpa rasa sakit. Aral rintangan, ketidakpercayaan , kritik pedas, adalah bagian dari proses menuju mutu. Kesiapan mental para profesional pendidikan menjadi bagian utama pula dalam sebuah agenda besar ini. Namun semua itu , Insya Allah, akan berhasil dengan bekal keyakinan bahwa semua ini adalah sebuah bentuk layanan yang tidak akan pernah sia-sia sampai akhir hayat.

PUISI ANAK

            Kunang-Kunang     (rikamumtaz)

Bola lampu mungil menyerupai morse
Sekawanan datang melengkapi cahayanya
Menerangi bagai bintang-bintang
Sinyal cahaya kunang-kunang
Mengirim sejuta pesan bermakna
Sebuah keajaiban menghiasi dunia

Pergilah ke kegelapan
Kau akan lebih menikmatinya
Mengerjap-ngerjap bagai permata
Menghadirkan pertunjukan Sang Kuasa

Kunang-kunang bergegas terbang
Jangan dulu, aku belum selesai
Menikmati dalam kegelapan malam
Hadir di sini dalam kelam
Tak bosan menikmati cahaya dalam temaram

Berpendar-pendar menerpa wajah
Ia sengaja dicipta untuk mensyukuri karunia-Nya
Karya seni luar biasa
Tiada tara

PUISI ANAK

Malam Bertabur Bintang

Temaram cahaya bintang
Menerobos kegelapan malam
Menyembul purnama dari peraduannya
Menemani pancarkan warna keemasan

Malam boleh hitam pekat
Tapi langit berhias kemerlap sinar bintang
Dari kaki cakrawala sampai ke zenit
Sampai batas terlemah
Yang masih mampu terekam mata

Bila musim kering hadir
April hingga September
Kecerahan langit semakin nyata
Ditimpa oleh keindahan selendang Milky Way
Bertaburkan miliaran bintang
Melilit langit dari utara ke selatan
Merangkul rasi Waluku
Menebar gugusan Bima Sakti
Menghadirkan singgasana rasi Gubug Penceng

Malam kian kelam
Langit tak lelah menabur bintang

PUISI ANAK

                             Hutan Apo Kayan           (rika mumtaz)

Aku tak sedang berkhayal
Asyik menikmati hamparan menggoda
Permadani alam tak terbatas sekat
Permainan warna-warni memancarkan cahaya
Pujian terucap, indah

Apo Kayan tampak cantik menghias tanah Kalimantan
Hamparan hijau hutan hujan tropis
Menggurat-gurat menari
Sungai besar berair jernih jadi hiasannya
Menyediakan janji kehidupan nyata
Bagi leluhur di sana

Apo Dayan berdamai dengan mereka
Mewarisi perlindungan pada Apo Dayan
Generasi penerus menjaganya
Bersahabat dengan alam
Telah mendarah daging sepanjang masa

Apo Dayan menggeliat menarik minat siapa saja
Serasa tak ingin menjauhinya, kesegarannya
Terpukau oleh keindahannya, rerimbunannya
Hutan yang harus dijaga oleh mereka, juga kita




PUISI ANAK

Pahlawan Masa Kini

Banyak pahlawan di masa sekarang ini
Tak perlu memanggul senjata
Tak perlu menghunus bambu runcing
Tak perlu berdarah-darah

Mengisi kemerdekaan ini
Semua dituntut jadi pahlawan
Karena pahlawan adalah orang yang berani
Orang yang rela berkorban
Orang yang gigih dalam kehidupan
Perkasa, satria, jujur
Berusaha sekuat tenaga jadi orang baik
Itu pahlawan yang terbaik

Tidak hanya 10 November digaungkannya
Juga tidak perlu meregang nyawa
Sifat kepahlawanan ada dalam jiwa
Untuk diri sendiri, keluarga, dan bangsa


WALAAH..!!!

Pagi itu suasana kelas 1 cukup tenang. Semua siswa tampak asyik mengerjakan tugasnya. Saat itu tugas yang dikerjakan adalah matematika, IPA, dan IPS. Wah, pelajaran tematik rupanya.
“Suasana cukup aman dan terkendali, hik..hik..hik”ujar Bu Wily senang. Lho, kenapa Bu Wily terkikik, ya? Aneh!
“Ya, Alhamdulillah, semua bisa mengerjakan tugasnya,” sambung Bu Tamara.
            “Hik, hik, hik …,” kikik Bu Wily lagi. Lho!
            “Kenapa Bu, ada yang gak beres dengan suara, Ibu?” tanya Bu Tamara bersimpati.
            “Tadi pagi saya makan durian, terus jadi begini,” jawab Bu Wily.
            “Ibu sih, ga bagi-bagi, jadi gitu deh suaranya,” Bu Tamara agak keki.
            “La, jelas saya ga bagi-bagi. Wong yang saya makan bijinya,”sahut Bu Wily enteng. Bu Tamara, bingung. Mau tambah keki atau dongkol,ya.
            Sst…. Jaga ketenangan! Lagi ada ujian!
Dua orang guru yang sabar itu terus mengawasi siswa yang masih bersemangat mengerjakan tugasnya. Tiba-tiba terdengar gelegar, “Walaah!”
            “Ada apa Riko?” Bu Tamara sudah hafal dengan kebiasaan satu muridnya  ini.  Lihat dari postur tubuhnya, Riko tampaknya banyak  makan, atau suka makan,ya?
Riko siap-siap mengeluarkan gelegarnya lagi. Bu Wily dan Bu Tamara pun telah bersiap menangkisnya, eh bukan, menerimanya, pasrah!
            Dengarlah suara Riko lagi,“BU, SOALNYA KOK SULIT-SULIT SEH!” Harusnya kalimat berakhir tanda tanya (?) tapi karena gelegar, jadi tanda seru (!) aja, ya.
            “Riko belum bisa nomor berapa?”tanya Bu Wily lembut sambil berjalan ke arah Riko. Kali ini suaranya sudah normal. Lanjutnya, “Coba, Riko baca lagi, ya. Pasti Riko, bisa.” Bu Wily terus memberi semangat.
Tapi Bu Wily dan Bu Tamara sudah hafal dengan kebiasaan siswa istimewa ini. Mereka pun siap menunggu kelanjutannya.
“Walaaaah! Sudah dibaca tiga kali. Tapi aku masih bingung!” Riko berdiri lalu menghadap ke papan tulis. Padahal Bu Wily masih di belakangnya, dan Bu Tamara masih di barisan meja belakang. Teman-teman lain tetap konsentrasi mengerjakan tugasnya. Dan lagi, mereka sudah terbiasa dengan aksi panggung Riko.
Riko melanjutkan monolognya, “ Bu!” kali ini Riko menghadap jendela. Jari telunjuknya menunjuk-nunjuk jendela, “Ibu tahu gak seh, aku lho sudah baca bolak-balik. Tapi ulangannya emang sulit!” Riko masih menghadap jendela dan terus menunjuk-nunjuk . La, itu, dua bu guru masih di belakang punggungnya. Terus Riko sedang bicara sama siapa,ya? Hiii…..!
Kini Bu Wily sudah di hadapannya dan tersenyum, “ Riko, coba duduk, lalu dibaca pelan-pelan,ya. Coba hitung lagi. Di coba lagi, ya, Nak? “
Riko melirik tajam Bu Wily dengan ekor matanya. Masih bersungut ia duduk. Dika di sebelahnya ikut bergetar badannya saat Riko duduk. Karena besar tubuh Dika separuhnya Riko. Tak ketinggalan Dika pun dilirik tajam. Dika membalasnya dengan senyum ampuh pepsodent.  Walaah, kata Dika, tapi dalam hati.
Kriing….kriing …..kriiing, bel istirahat berdering nyaring. Semua siswa berhamburan ke luar kelas. Tapi enggak semua kok, ada yang berjalan perlahan ke teras. Ada yang makan snack yang dibawa dari rumah. Ada pula beberapa siswa makan snack yang dipesan di sekolah. Sebagian siswa membentuk kelompok kecil arisan.
Bu Wily dan Bu Tamara tak ketinggalan untuk break. Sambil menikmati sarapan yang tertunda, mereka saling bercerita. Tiba-tiba sontak terdengar, WALAAH!
Oh, lebih keras dari yang tadi.
Apa yang terjadi? Di depan kantor seorang pak guru terperanjat kaget. Di dekatnya ada sekelompok siswa putri terdiam takut. Di lantai tampak berserakan snack Riko. Riko melotot ke arah snack dan teman-teman putrinya bergantian. Tiba-tiba ia membalikkan badannya ke arah rak sepatu. Lho,kok?
“Kamu kok jatuhin kueku seh! Kamu tau ga? Snack itu sangat enak. Aku dibelikan mamaku!” Riko menunjuk-nunjuk beberapa pasang sepatu sambil melotot. Lho, yang jatuhkan snack kan si Riri? Kok Riko …?
Teman-teman putrinya yang ada di belakang punggungnya semakin menjauh. Pak guru yang sejak tadi kaget, semakin terperangah. Beliau belum kenal Riko tampaknya.
Riko melanjutkan marahnya,” Itu,itu, itu, sama yang itu, mahal harganya, tau!” sambil tetap menunjuk ke arah sepatu. Eiit, dia kini agak menengadah. Menghadap dinding di atas rak sepatu.
“Mmmamaku bebelinya, di supretmaket, di Indomapret, Iindomaret,” Riko agak terengah-engah, telunjuk mengarah ke dinding di atas rak sepatu.
Salah seorang teman memberanikan diri bertanya, “Ko, harganya berapa, sih?”
“Pokoknya, harganya mahal. Titik!” Riko mengeluarkan jurus mautnya, melirik setajam elang.
Waduh, katanya harganya mahal! Berapa puluh ribu, ya?                                            
“Jangan tanya- tanya, tau!” Riko menelengkan kepalanya.
Lho, aku kan bertanya dalam hati, dia kok tau, ya.
“What’s wrong, Bu?”tanya Bu Wily pada Bu Tamara menghentikan acara sarapannya.
“Yuk, kita saksikan bersama!” ajak Bu Tamara.  Eh, Bu Tamara kok bilangnya begitu,sih ? Kayak penyiar TV ngajak nonton bola saja.
Kedua bu guru itu mendekat ke arah keributan. Dan … oh,   “Walaah!” seru mereka serempak sambil memegang dahinya masing-masing.
“Riko!” seru keduanya ke arah murid kesayangan.
Selama ini Bu Wily dan Bu Tamara selalu bersyukur karena mereka diamanahi siswa seperti Riko. Mereka tahu tentang sabar yang sesungguhnya justru dari kondisi Riko sekarang. Mereka jadi banyak belajar  tentang cara penanganan siswa di kelas. Siswa seperti Riko mengilhami banyak ilmu dan kreativitas pada mereka.  Silaturahim pun semakin terjalin dengan orang tua Riko.

Resensi Buku

Identitas buku :
Judul                           : Mind Map untuk Anak ( Agar anak lulus ujian dengan nilai bagus)
Pengarang                   : Tony Buzan
Penerbit                       : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbitan            : 2008
Tebal Buku                  : 120 halaman
Diresensi oleh             : rikamumtaz
            Tony Buzan, lewat temuan Mind Map-nya telah melakukan terobosan besar dalam hal mencatat pelajaran. Metode ini diperkenalkan oleh Tony Buzan pada tahun 1974, seorang ahli pengembangan potensi manusia dari Inggris. Salah satu karya besarnya adalah Mind Map untuk Anak. Mind Map bila diterjemahkan menjadi peta pikiran. Peta Pikiran adalah metode mempelajari konsep  yang didasarkan pada cara kerja otak kita saat menyimpan informasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otak kita tidak menyimpan informasi dalam kotak-kotak sel saraf yang terjejer rapi melainkan dikumpulkan pada sel-sel saraf yang berbercabang-cabang yang apabila dilihat sekilas akan tampak seperti cabang-cabang pohon. Dari fakta tersebut dapat disimpulkan bahwa bila kita menyimpan informasi seperti cara kerja otak, maka informasi akan semakin baik tersimpan dalam otak. Hasil akhirnya tentu saja proses belajar kita akan semakin mudah.
Buku ini menuntun pembaca bagaimana sebuah materi pelajaran bisa dirangkum dalam bentuk  gambar, juga simbol-simbol. Dengan demikian, proses belajar menjadi mudah bagi anak. Sangat disarankan dalam buku ini untuk menggunakan pensil, spidol, atau bolpoin warna. Warna akan menguatkan konsep pada otak.
Dengan gaya bahasa ”kamu” ( orang kedua) Tony Buzan ingin mengajak pembaca, terutama anak usia sekolah, lebih mudah memahami isi buku ini, terasa lebih dekat dengan pembaca, juga agar pembaca mudah menerapkan trik-trik membuat mind map. Bagi guru atau orang tua, buku ini bisa dijadikan panduan untuk mengajar efktif atau membimbing belajar anak di rumah.
Di samping kegunaannya untuk memudahkan siswa belajar, teknik mind map juga bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pada salah satu babnya, dibahas cara menuliskan daftar belanja mudah menggunakan mind map. Juga ada contoh kegunaan mind map untuk mencatat  persiapan bila hendak melakukan perjalan wisata.
            Buku Tony Buzan ini sungguh bermanfaat sebagai alat bantu belajar bagi siswa, guru, dan orang tua. Namun sangat disayangkan, ada beberapa contoh mind map yang ditampilkan tidak berwarna, sehingga sedikit mengurangi kekayaan buku ini. Seandainya semua contoh mind map ditampilkan ”full color” tentunya akan membuat pembaca semakin tertantang untuk menerapkan isinya.

Resensi Buku

Identitas buku :
Judul                           : 60 Permainan Kecerdasan Kinestetik
Pengarang                   : Mohammad Muhyi Faruq, S.Pd, M.Pd
Penerbit                       : PT Grasindo
Tahun Terbitan            : 2008
Tebal Buku                  : 115 halaman
Diresensi oleh             : rikamumtaz
            Banyak orang sukses tidak semata-mata karena kemampuan kognitifnya, tetapi mereka memiliki kemampuan lain yang membuat mereka sukses bahkan mampu bertahan dalam hidupnya secara finansial. Salah satu kemampuan yang dimiliki mereka adalah kecerdasan kinestetik. Kecerdasan kinestetik adalah kemampuan menyelaraskan pikiran dengan badan sehingga apa yang dikatakan dalam pikiran akan tertuang dalam bentuk gerakan-gerakan badan yang indah, kreatif, dan memiliki makna.
            Tentu kita tidak akan lupa dengan nama-nama seperti, Susi Susanti, Taufik Hidayat, yang pernah menjadi pemain bulutangkis terbaik dunia. Andree Agassi pernah pula menjadi pemain terbaik dunia di Wembledon. Nama-nama seperti Ronado, David Beckhmam, Zidan Zidane, memiliki kemampuan tinggi di bidang sepak bola dan terkenal di usia muda. Mereka adalah sebagian dari orang-orang yang memiliki kecerdasan kinestetik yang dibanggakan dan menimbulkan decak kagum.
            Sejak usia dini, kelincahan tubuh manusia dapat dibimbing sampai taraf yang tertinggi. Tubuh akan mudah merespon bahkan dengan cepat, apa yang dikehendaki oleh pikirannya. Tubuh akan bergerak spontan dengan lincah, lentur, bahkan tampak menawan. Untuk mencapai tahap seperti itu, kecerdasan kinestetik perlu distimulasi atau dipupuk sejak dini. Oleh karena itu, buku ini mengajak para orang tua dan guru untuk melatih kecerdasan kinestetik putra putrinya ( siswanya ).
            Latihan untuk mengembangkan kecerdasan kinestetik dalam buku ini terbagi dalam lima bab, yaitu, Mengembangkan Gerak Koordinasi Tubuh, Mengembangkan Gerak Kelincahan, Mengembangkan Gerak Koordinasi Tangan, Kaki, dan Mata, Mengembangkan Gerak Keseimbangan, dan terakhir Mengembangkan Gerak Kekuatan. Di setiap babnya, ada 10-12 contoh permainan dan latihan untuk mengembangkan kecerdasan kinestetik.
            Berikut ini adalah beberapa contoh permainan yang dikembangkan di setiap bab.

Bab I : Mengembangkan Gerak Koordinasi Tubuh.
            Empat  permainan dari dua belas gerakan yang dicontohkan yaitu, menggerakkan pita secara bebas, menangkap balon udara, melangkah mengikuti ukuran garis, dan bertepuk tangan dengan berbagai variasi. Pada bab ini permainan dilakukan untuk melatih koordinasi tubuh agar terjadi keseimbangan gerakan sehingga koordinasi tubuh menjadi tidak kaku.

Bab II : Mengembangkan Gerak Kelincahan
            Tiga permainan dari sepuluh gerakan yang dicontohkan yaitu, berlari menyusun abjad, bongkar pasang puzzle, dan permainan hulahop di pinggang. Bab ini lebih menekankan pada kelincahan gerakan sehingga tubuh semakin lentur dalam melakukan kegitan.

Bab III: Mengembangkan Gerak Koordinasi Tangan, Kaki, dan Mata
            Tiga permainan dari sepuluh gerakan yang dicontohkan yaitu, melempar dan menangkap bola kecil, menangkap jari, menendang dan memberhentikan bola. Bab ini kegiatannya lebih bervariasi lagi sehingga koordinasi antara tangan, kaki, dan mata semakin bagus. Anak akan semakin tangkas dalam melakukan gerakan.

Bab IV : Mengembangkan Gerakan Keseimbangan
            Contoh-contoh permainan dalam bab ini diantaranya adalah, melangkah di atas balok keseimbangan, melangkah dengan meletakkan buku di atas kepala, mendirikan pena di atas telapak tangan, dan meniru gerakan pesawat. Pada bagian ini keseimbangan tubuh semakin terlatih. Di samping itu, keberanian dan rasa percaya diri anak akan terasah.

Bab V : Mengembangkan Gerakan Kekuatan
            Permainan di bab ini melatih anak untuk meningkatkan keseimbangan koordinasi gerakan dengan tenaga yang dimilikinya. Misalnya pada permainan saling membelakangi badan dan mendorong, tarik tambang dua arah berpasangan, melempar plastik berisi air, memasukkan bola dalam ring basket, meremas clay, menarik tali berbentuk lingkaran, dan lain-lain.

            Setelah mengetahui contoh-contoh gerakan yang menstimulasi kecerdasan kinestetik di atas, lalu bagaimanan kita dapat mengetahui bahwa permainan tersebut aman atau tidak bagi anak? Orang tua atau guru perlu mengetahui tingkat kenyamanan permainan sehingga tidak menimbulkan cedera bagi anak. Untuk itu, di setiap akhir penjelasan cara bermain, dipaparkan pula standar ketertiban dan keselamatan permainan. Dengan demikian, guru dan orang tua tidak perlu ragu mempraktikkannya pada anak.
            Sangat disarankan pada guru dan orang tua memiliki buku ini untuk mengembangkan cara-cara mengajar di kelas atau meningkatkan kemampuan kinestetik putra-putri di rumah. Bila dipraktikkan secara optimal, maka orang tua atau guru sudah melakukan langkah untuk melejitkan potensi diri anak.

Resensi Buku

Identitas buku:
Judul                           : Einstein Never Used Flash Cards
                                      Bagaimana Sesungguhnya Anak-Anak Belajar dan Mengapa Mereka Harus
  Banyak Bermain dan Sedikit Menghafal

Pengarang                   : Kathy Hirsh  Pasek, PhD., Roberta M. Golinkoff,PhD., Diane Eyer, PhD.
Penerbit                       : KAIFA
Tahun Terbitan            : 2005
Tebal Buku                  : 405 halaman
Diresensi oleh             : rikamumtaz
            Bermain bagi seorang anak bagai makanan pokok. Bahkan mungkin seperti bensin bagi kendaraan bermotor. Bagi Kathy Hirsh Pasek, penulis buku ini, pandangan mereka memang kontras dengan pandangan para orang tua yang salah kaprah tentang pendidikan anak dan makna kecerdasan. Tidak sedikit orang tua yang membatasi ruang bermain anaknya. Anak-anak malang itu dibebani dengan banyak pelajaran sejak usia dini serta dipaksa banyak menghafal.
            Buku ini hadir untuk menjawab keresahan banyak orang tua terhadap perkembangan anaknya bila dibandingkan perkembangan anak orang lain. Di sisi lain begitu banyak anak yang menjalani masa kanak-kanaknya dengan tergesa-gesa. Banyak orang tua berlomba-lomba menciptakan anak-anaknya lebih pintar pada usia sangat muda, misalnya dengan mendaftarkan anaknya pada kursus atau les musik, berkuda, berhitung, guru-guru privat, bahasa asing, atau renang. Bahkan muncul industri-industri pendidikan bayi, yang menemukan kelompok konsumen yang cukup bersemangat untuk mengembangkan kecerdasan bayinya. Misalnya muncul CD-CD musik Mozart. Mereka sangat meyakini musik Mozart dapat mengembangkan kecerdasan bayi mereka.
            Munculnya buku ini mencoba menerobos pandangan yang berbeda dengan konsep mereka. Menurut penulis, budaya memuja kesuksesan membuat hilangnya masa kanak-kanak. Anak – anak diberi pakaian orang dewasa. Seakan-akan orang tua menjadi tidak percaya diri kalau tidak mengikuti perkembangan industri ” mendewasakan anak secara dini ”. Anak-anak diprogram sedemikian rupa sehingga mereka tidak memiliki waktu istrihat dan bermain yang memadai.
            Einstein Never Used Flash Cards menentang semua praktik yang keliru dengan membeberkan hasil penelitian terbaru tantang cara yang alamiah membantu anak-anak tumbuh dan belajar. Anak-anak perlu dibiarkan mengembangkan rasa ingin tahunya sendiri. Anak-anak prasekolah yang dibebaskan menikmati masa bermain akan lebih sukses ketimbang anak yang dipaksa menghafal dan digenjot perkembangan intelektualnya.
            Buku yang menantang ini berisi 10 bab mengungkap beberapa cara yang bisa dilakukan para orang tua agar dapat mengembangkan kemampuan anaknya secara alamiah.

Bab I   : Keresahan Orang Tua Masa Kini
             Pada bab ini digambarkan tentang keresahan banyak orang tua menghabiskan uang jutaan untuk membeli permainan pendidikan di mal. Para orang tua berlomba memasukkan anak-anaknya pada club-club belajar. Kalau tidak melakukan itu, mereka seperti orang tua yang tidak mengikuti perkembangan dunia pendidikan. Ditambah lagi dengan booming buku-buku penelitian seperti Bring Out the Genius in Your Child karya Ken Adams dan 365 Ways to a Smarter Presschoolers  karya Marilee Roobin Burton (di Indonesia, buku-buku sejenis banyak juga bermunculan, baik karya penulis barat maupun penulis Indonesia). Fokus orang tua menyiapkan perkembangan kecerdasan anak-anak semakin tidak terkendali. Orang tua mengambil masa anak-anak dan memperlakukan mereka seperti orang dewasa cilik.

Bab II :  Anak Genius: Bagaimana Bayi Dibentuk untuk Belajar?
              Pada bab ini pembaca akan di”tabrakkan” pada penemuan yang menentang teori Efek Mozart Pada Kecerdasan Bayi. Selama ini kita sangat yakin bahwa musik klasik akan meningkatkan kecerdasan anak bahkan bayi yang masih dalam kandungan pun bisa menerima stimulasi efek Mozart ini. Hal ini sangat ditentang oleh penulis buku ini. Mendengarkan komposisi klasik mungkin akan mempengaruhi suasana hati, tapi tidak IQnya. Tidak hanya Mozart yang bisa diperdengarkan pada bayi sebenarnya. Orang tua bisa menyanyikan lagu Nina Bobo, Simon and  Garfunkel, Twinkle-Twinkle Little Star, atau yang lain.

Bab III  :  Memainkan Angka : Bagaimana Anak Belajar Tentang Kuantitas?
              Bagaimana dengan kemampuan berhitung anak? Bab ini mendeskripsikan beberapa langkah anjuran agar anak bisa mengenal bilangan atau berhitung tanpa merasa tertekan. ”Meloncat ke depan” dirasa tidak terlalu penting. Itu akan membuat anak merasa phobia dengan angka. Menurut buku ini, membiarkan anak menemukan sendiri dengan perlahan konsep berhitung saat bermain atau menelaah benda-benda di rumahnya, membuat anak lebih berpengalaman dalam berhitung.Misalnya saat menata piring dan sendok di meja makan, anak akan secara alami menghitung jumlah sendok dan piring yang dibutuhkan untuk makan sesuai dengan jumlah anggota keluarga.

Bab IV  :  Bahasa : Kekuatan Mengoceh
              Pada Bab ini dijabarkan banyak kegiatan sederhana yang bisa dilakukan orang tua di rumah untuk meningkatkan kemampuan berbahasanya, namun dapat memuncukan kekuatan bahasa anak. Saat berinteraksi, atau sambil mengerjakan pekerjaan rumah, dengarkan lebih banyak apa yang anak sampaikan pada orang tua. Tanggapi cerita mereka, beri pertanyaan-pertanyaan tentang topik yang mereka utarakan. Diskusikan tentang yang disukai anak atau tidak disukainya. Tidak perlu menggunakan flash cards kosa kata, atau program komputer.

Bab V : Kemampuan Membaca: Membaca Hal yang Tersirat
              Hal yang tepenting, seperti yang dijelaskan bab ini adalah,  ciptakan suasana yang menyenangkan saat membaca. Tanyakan pada anak di sela kegiatan membaca, mengapa gunung ini terlihat kecil? Menurutmu, bagaimana perasaan Oni saat menemukan kucingnya kembali? Biarkan anak menunjuk-nunjuk gambar atau mengoceh tentang gambar atau halaman-halaman buku.

Bab VI  : Misi Mendefinisikan Kecerdasan
              Banyak orang tua memaksakan putra-putrinya masuk dunia pendidikan prasekolah yang berorientasi keberhasilan. Bahkan orang tua tidak puas dengan sebutan normal atau rata-rata. Bab ini akan membuka wawasan orang tua, bahwa kecerdasan itu tidak semata nilai-nilai atau angka 10 pada rapor. Kecerdasan tidak bisa diukur hanya dari IQ saja. Masuklah ke zona anak, sehingga orang tua benar-benar tahu kecerdasannya.

Bab VII           : Siapakah Saya? Mengembangkan Konsep Diri
              Dalam banyak cara, anak dapat mengembangkan konsep dirinya tanpa banyak bantuan dari orang tua. Bab ini memaparkan lebih jauh bagaimana peran orang tua dalam membentuk konsep diri pada anak. Berbicara pada anak dan undang mereka untuk berbicara bagaimana perasaan mereka. Bagaimana menunjukkan rasa sedih, gembira, atau takut. Bab ini juga mengajarkan orang tua agar menghindari mengacuhkan atau meremehkan perasaan anak.

Bab VIII : Mengenal Diri Anda : Bagaimana AnakAnak Mengembangkan Kecerdasan Sosial
              Kecerdasan sosial dapat dilatih melalui interaksi yang berarti dengan orang lain dalam kehidupan ini. Pada bab 8 ini, dijelaskan bagaimana orang tua mengajarkan anak memperlakukan orang lain, mengapa mereka harus bertingkah demikian, dan bagaimana mereka membangun hubungan pertemanan.

Bab IX  : Bermain : Wadah Pembelajaran
                Bab ini lebih dalam membahas kiat-kiat pendampingan bermain pada anak sehingga bermain itu benar-benar efektif. Meluangkan waktu bermain dengan anak adalah hal yang sangat membantu mengembangkan kepribadian dan kemampuan anak. Intinya, terjunlah bermain bersama anak.

Bab X : Formula Baru : Cara Mengasuh yang Canggih
              Bagian terakhir buku ini memaparkan 4 prinsip yang harus dijalani orang tua agar anaknya bisa berkembang secara alami. Ke 4 prinsip itu menjanjikan efek yang luar biasa pada perkembangan anak. Ke 4 prinsip itu coba diterapkan di rumah sendiri, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Pesan yang penting dalam bab ini adalah, kembalikan masa kanak-kanak kepada anak-anak. Kembalikan keseimbangan kehidupan anak di rumah dan sekolah.

              Buku ini penting dibaca semua orang tua dan guru. Dengan mempelajari buku ini, para orang tua akan bisa menjadikan anak mereka seperti Einstein tanpa perlu terburu-buru.Tanpa perlu meloncat menjauhi dunia anak yang sesungguhnya. Tanpa perlu meninggalkan dunia bermain yang begitu menyenangkan.